SI KIKIR BOLI


Di suatu hutan pinus, tinggallah seorang kurcaci bernama Boli. Dia adalah kurcaci yang sangat rajin bekerja. Dia berangkat bekerja sebelum penghuni hutan yang lain terbangun dan kembali ke rumahnya setelah penghuni hutan yang lain tertidur. Dia sangat suka mengumpulkan makanan dari hutan dan menimbunnya di rumahnya untuk dia nikmati sendiri. Tetapi walaupun dia adalah satu-satunya penghuni hutan yang paling rajin bekerja, tak seorang pun dari penghuni hutan yang menyukainya. Karena selain rajin, dia juga adalah penghuni hutan yang paling kikir.

Suatu malam, seekor ibu kelinci menemukan banyak keranjang yang penuh dengan apel busuk di belakang rumah Boli. Karena anak dari ibu kelinci sedang sakit keras, jadi ibu kelinci mendatangi rumah Boli untuk meminta bantuan.

Tok..tokk.. tokk (terdengar suara dari luar pintu rumah Boli). Boli yang bersiap-siap untuk istirahat setelah seharian bekerja terkejut mendengar pintu rumahnya di gedor. Karena sudah lama sekali tak ada satu pun penghuni hutan yang berani datng ke rumahnya. Dia pun perlahan berjalan dari ranjangnya dan membukakan pintu.

“ada apa kamu datang ke rumahku??” Tanya Boli ketus melihat ibu kelinci berdiri di depan pintu rumahnya.

“selamat malam tuan Boli, maaf mengganggu istirahat anda. Tetapi saya tidak tahu harus meminta kepada siapa lagi selain kepada anda..” kata ibu kelinci lembut tetapi langsung di potong oleh Boli, “saya tidak bisa membantu anda, lagian kalau anda tahu ini sudah malam, kenapa anda mendatangi rumah saya, saya sedang lelah dan butuh istirahat.. sebaiknya anda pergi dari rumah saya” jelas Boli dengan nada keras dan  kasar.

“ saya mohon tuan, tolong saya anak saya sedang sakit. Dia kelaparan. Tadi saya tidak sengaja melihat bebrapa keranjang berisi apel busuk.. mungkin anda masih mempunyai apel di dalam. Bolehkah saya minta satu butir saja untuk anak saya yang sedang sakit” pinta ibu kelinci dengan wajah penuh harap.

“saya memang punya banyak apel segar di dalam. Tetapi saya tidak akan memberikannya kepada kelinci malas sepertimu. Pulang sana..!” bentak Boli.

“saya mohon tuan, hanya sebutir saja. Saya tidak bisa mencari makanan untuknya karena saya tidak bisa meninggalkan anak saya satu-satunya yang sedang sakit. Saya mohon tuan. Saya mohon” kata ibu kelinci.

“saya sudah bilang saya tidak mau memberikan apel saya kepadamu. Pergi sana..        !” bentak Boli sambil membanting daun pintu rumahnya yang membuat ibu kelinci terkejut dan hampir terjantuh. Ibu kelinci pun pergi meninggalkan rumah Boli dengan perasaan sangat sedih. Sekarang dia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Di tengah perjalanan pulang, dia bertemu dengan seekor monyet yang sudah renta. Tanpa sengaja kakek monyet tersebut mendengar rintihan ibu kelinci yang berjalan di dekat tempat duduknya.

“apa yang membuat kau sedih ibu kelinci??” kata kakek monyet lembut namun mengejutkan ibu kelinci, karena suaranya berasal dari atas pohon yang sangat rindang dan gelap. Seketika ibu kelinci mendongakkan kepalanya ke atas pohon dan melihat seekor monyet tua sedang duduk di sana.

“aku bersedih karena sekarang anakku sedang sakit, dia kelaparan. Aku sudah mencari makanan kemana-mana. Tapi tidak ada yang bisa membantuku.. terakhir aku pergi ke rumah tuan Boli. Tetapi dia malah mengusir dan membentakku!” jelas ibu kelinci sambil terisak. “ jangan sedih  ibu kelinci, ini ambillah aku masih punya satu butir apel. Ambillah dan berikan kepada anakmu.” Kata kakek monyet sambil bergelanyut di cabang pohon dan memberikannya kepada ibu kelinci. “terimakasih banyak kakek kelinci, terimakasih.. tapi. Kau hanya punya satu butir apel. Dan sekarang kau memberikannya padaku. Bagaimana denganmu jika kau lapar nantinya??” kata ibu kelinci.

“untuk saat ini anakmu lebih membutuhkannya. Lagipula aku sedang tidak lapar. Jika aku nantinya lapar, aku akan berusaha mencari makananku sendiri semampuku asalkan aku tidak sampai meminta belas kasihan orang lain” ungkap kakek monyet. “aku malu padamu, kek. Kau sudah tua renta begini, tetapi tetap tidak mau menyusahkan orang lain. Sedangkan aku, aku masih kuat untuk bekerja. Baru di timpa masalah seperti ini aku sudah meminta-minta kepada orang lain” keluh ibu kelinci. “ sudahlah anakku, ingatlah tiada kata akhir untuk berubah. Sekarang pulanglah, anakkmu pasti sudah menunggu. Semoga anakkmu cepat sembuh.” Kata kakek monyet sambil merangkak menaiki pohon ke cabang yang lebih tinggi sampai akhirnya lenyap di telan kegelapan malam. Ibu kelinci pun berlari dengan cepat pulang karena tidak sabar untuk memberikan anaknya apel itu. Berkat apel dari kakek monyet itu anaknya kini telah sembuh dan bisa membantu ibunya mengumpulkan makanan. Karena sebentar lagi musim hujan akan tiba.

Musim hujan pun tiba. Tiada hari di hutan pinus tanpa diiringi hujan. Hujan seakan menyita segala bentuk aktifitas semua penghuni hutan, termasuk Boli. Setiap musim hujan tiba, sepanjang musim hujan berlangsung, dia tidak pergi untuk bekerja. Walaupun begitu dia tidak pernah merasa kelaparan. Karena dia mempunyai persediaan makanan yang berlimpah. Suatu malam yang sangat dingin, hujan turun dengan begitu derasnya. Terdengar ketokan pintu dari dalam rumah Boli. Boli yang dari tadi menyiapkan makan malam di meja makannya terhenti sejenak. Lalu terdengar ketokan yang lebih keras lagi.

“ siapa di luar??” teriak Boli dari dalam.

“ini aku, Boli. Kita masih satu keluarga. Bukalah pintumu, di luar sangat dingin. Aku bisa membeku di sini!” teriak seorang kurcaci dari luar dengan suara bergetar karena kedinginan. Tanpa pikir panjang Boli langsung membukakan pintu. “masuklah, cepat!” kata Boli. Boli terkejut mengetahui kurcaci itu mempunyai badan yang jauh lebih besar dari Boli. Dan lebih terkejut lagi kalau kurcaci gemuk itu tidak sendiri. Dia membawa empat kurcaci lain dimana badan mereka tidak jauh berbeda dengan kurcaci pertama. Melihat itu Boli sampai menelan ludah dan berkata, “aku kira kau hanya sendiri..”. “kau gila! Mana mungkin aku mau pergi keluar di tengah cuaca seperti ini seorang diri. Lagi pula aku memiliki empat orang sahabat dan kami tidak akan terpisahkan. Kemana pun aku pergi mereka harus ikut”  bentak kurcaci pertama di ikuti anggukan empat kurcaci lainnya. Itu membuat bulu kuduk Boli berdiri. Dia baru pertama kalinya di bentak oleh orang lain.

“tuan rumah macam apa kau ini! Membiarkan tamu hanya berdiri dengan tubuh kedinginan seperti ini!” bentak kurcaci kedua.

“lihatlah semuanya!!” kata kurcaci ketiga sambil menunjuk kearah meja makan. Beraneka macam makanan tersedia di atas meja makan yang sangat panjang dan besar.

“Boli, kau tentu tidak akan sanggup menghabiskan makanan sebanyak ini seorang diri bukan??” Tanya kurcaci pertama. Tanpa mendengar jawaban dari Boli. Kurcaci keempat langsung duduk di depan meja makan.

“sudah lah teman-teman, dia mungkin terlalu bahagia karena kita datang meramaikan rumahnya. Sampai-sampai dia menjadi pucat dan tidak bisa berkata-kata. Ayo duduklah dan nikmati makan malam besar kita..” kata kurcaci keempat dan langsung diikuti oleh empat kurcaci lainnya. Sedangkan Boli masih bediri di samping pintu. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan makan malam seperti ini.

Lima kurcaci gemuk itu dengan sangat lahap menyantap semua makanan yang tersedia di meja makan. Tak banyak waktu yang di butuhkan oleh mereka untuk menghabiskan makanan walaupun sebanyak itu. Boli hanya bisa memperhatikan dari jauh, karena lima kurcaci itu tidak mengizinkan Boli untuk ikut makan bersama mereka.

“ kenapa kau hanya berdiri di sana, Boli? Tidak kah kau lihat makanan di meja makanmu sudah hampir habis dan kami masih lapar. Tuan rumah macam apa kau ini? Cepat keluarkan semua makananmu yang masih tersisa! Cepat!” bentak kurcaci pertama dan itu sangat mengejutkan Boli. Boli tidak berani membantah. Karena jika dia melawan, lima kurcacai gemuk itu akan mematahkan tulang-tulangnya. Dia pun melakukan semua yang diminta oleh lima kurcaci itu. Dia bolak-balik, keluar masuk gudang makananya untuk menyediakan makanan bagi lima kurcaci itu. Kini dia sudah merasa sangat lelah dan butuh istirahat yang banyak. Dengan sekuat tenaga dia berjalan ke meja makannya sambil membawakan sekantong kacang yang merupakan persediaan makanan terakhirnya.

“maaf tuan-tuan, aku berani bersumpah. Ini adalah persediaan makanan terakhirku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Ini ynag terakhir tuan” kata Boli sambil mengeluh karena sekujur tubuhnya terasa lemas.

“baiklah, tidak masalah, Boli. Sekarang kau boleh pergi, kau sepertinya butuh untuk beristirahat. Jangan hiraukan kami!” kata kurcaci pertama dengan suara sedikit lembut. Boli pun dengan terlunta-lunta berjalan menuju kamarnya. Namun sebelum sampai di kamarnya, dia terjatuh dan tidak sadarkan diri tepat di depan pintu kamarnya.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah. Para keluarga burung saling bernyanyi gembira menyambut musim panas yang menghangatkan bagi seluruh penghuni hutan. Jauh di dalam hutan, di dalam rumah Boli. Boli terbangun dengan perlahan membuka matanya. Betapa terkejutnya dia melihat keadaan rumahnya yang tidak jauh berbeda dengan kapal pecah. Dia pun berusaha berdiri dan langsung membereskan rumahnya. Baru mebereskan setengah bagian dari rumahnya yang berantakan, dia kembali terjatuh.

“apa yang terjadi padaku, ini pertama kalinya aku bangun sesiang ini. Ini pertama kalinya aku merasa selapar ini. Dimana makanan-makananku..” gumamnya sambil mengingat-ingat apa yabg terjadi. Tiba-tiba dia tersentak, karena dia mengingat sesuatu. Sesuatu yang terjadi padanya pada malam itu. Dia merasa begitu lapar. Karena musim panas sudah tiba, dia akhirnya keluar dari rumahnya untuk mencari makanan. Dengan penampilan berantakan dia berjalan sendirian di dalam hutan untuk mencari makanan. Tetapi tak satupun makanan yang dia temukan. Malah dia mendengar cemoohan dari penghuni hutan yang lain. Berbagai kata-kata kasar keluar dari mulut mereka.

“lihat, itu Boli. Kurcaci yang paling kikir di hutan ini.” Kata jerapah

“ Boli, si rajin bekerja, si kaya, kurcaci yang tidak pernah kelaparan” kata gajah

“ tapi lihat dia sekarng, dia bahkan lebih buruk dari pengemis dan gelandangan” kata ular

“Boli, yang sekarang sedang kelaparan. Sekarang baru dia tahu rasanya kelaparan seperti apa, baru dia rasakan rasanya susah seperti apa” cela burung elang sambil terbang rendah di atas kepalanya.

“Boli yang malang, Boli yang kelaparan. Kini tidak akan ada satu penghuni hutan pun yang akan membantu orang kikir sepertimu” kata rusa

Boli yang mendengar semua perkataan mereka seperti merasa di lempar dengan batu oleh mereka yang mencelanya. Di sepanjang perjalanannya mencari makan dia hanya mendapat celaan dari penghuni hutan yang dia temui. Tak ada yang mau menolongnya. Kini dia sadar akan perbuatannya selama ini. Dia baru sadar bahwa lima kurcaci yang datang kerumahnya malam itu, tidak lain hanyalah karma atas kekikirannya selama ini. Dia kini sudah tidak kuat berjalan. Badannya sudah sangat lemah. Akhirnya dia memilih untuk beristirahat di bawah pohon apel yang sangat besar namun belum memiliki buah. Di tengah keputus asaannya, tiba-tiba dia mendengar suara yang begitu lembut memanggilnya, “Boli..Boli..” terdengar suara itu berasal dari atas kepalanya. Lalu dia menongak dan begitu terkejut mengetahui bahwa suara yang sangat lembut tersebut adalah suara dari ibu kelinci yang duduk di dalam rumah pohon bersama anaknya.

“kemarilah, Boli. Naik kerumah kami,” pinta ibu kelinci dengan lembut. Seperti disihir Boli langsung naik dengan sisa kekuatan yang masih di milikinya. Setibanya di rumah ibu kelinci, dia melihat begitu banyak makanan yang tersedia di meja makan ibu kelinci. Boli seperti pernah melihat makanan itu sebelumnya. Tiba-tiba dia baru ingat kalau makanan itu sama seperti makan malamnya ketika lima kurcaci datang kerumahnya dan menghabiskan semua makanannya tanpa sisa. Boli tertunduk malu menyadari sikapnya dulu kepada ibu kelinci.

“apa yang kau pikirkan tuan? Silahkan makanlah makanan yang sudah kami sediakan untuk tuan” kata anak kelinci yang duduk di sampingnya. Boli semakin malu mendengarnya. Dia berdiri dan menghampiri ibu kelinci dan membisikkan sesuatu di telinga ibu kelinci.

“maafkan aku..” bisik Boli perlahan. Ibu kelinci hanya tersenyum bahagia. Dan mengajak Boli makan bersamanya dan anaknya.

Kini Boli menyadari semua perbuatannya yang keliru. Dia kini berubah. Walaupun dia masih tetap serajin dulu, tetapi kini dia bukanlah Boli si kikir. Dia kini adalah Boli yang dermawan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan. Dan kini semua penghuni hutan menyeganinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s