UNFORGETABLE MOMENT AT RINJANI MOUNTAIN

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Aduh bingung harus mulai dari mana. Yang pastinya kali ini nik bakal cerita tentang sebuah perjalanan tak terlupakan nik dan kawan-kawan. Sebuah perjalanan yang luar biasa kalo katanya tante Syahrini sih “sesuatu”. Ini cerita nik dan kawan-kawan saat melakukan praktikum lapangan mata kuliah Non Vascular Plant Botany (Botani Tumbuhan Rendah) di Gunung Rinjani, Lombok, NTB. Oh ya sebelumnya perkenalkan namaku Jum’atun Nikmah, panggil aja nik. Aku sekarang sedang kuliah di Universitas Mataram, FKIP Jurusan Pendidikan Biologi.

DSC_0818 DSC_0768

Sedikit informasi tentang G. Rinjani yang nik ambil dari beberapa sumber he..ehe. Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25′ LS dan 116º28′ BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur. Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.

Gunung Rinjani dengan titik tertinggi 3.726 m dpl, mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok bagian utara. Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m, memanjang kearah timur dan barat. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara= laut, danau) seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut.

Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m dengan ketinggian 2.296 – 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir aktif/meletus sejak tanggal 2 Mei 2009 dan sepanjang Mei, setelah sebelumnya meletus pula tahun 2004.[2][3] Jika letusan tahun 2004 tidak memakan korban jiwa, letusan tahun 2009 ini telah memakan korban jiwa tidak langsung 31 orang, karena banjir bandang pada Kokok (Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak. Sebelumnya, Gunung Barujari pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966, dan 1994. Selain Gunung Barujari terdapat pula kawah lain yang pernah meletus,disebut Gunung Rombongan. Rinjani memiliki panaroma paling bagus di antara gunung-gunung di Indonesia. Setiap tahunnya (Juni-Agustus) banyak dikunjungi pencinta alam mulai dari penduduk lokal, mahasiswa, pecinta alam.

Suhu udara rata-rata sekitar 20 °C; terendah 12 °C. Angin kencang di puncak biasa terjadi di bulan Agustus. Ada  dua jalur utama yang paling sering dilalui oleh para pendaki G. Rinjani, yaitu jalur Sembalun dan jalur Senaru. Tapi kalo nik cs memilih melewati jalur senaru. Sekedar info tentang jalur senaru. Jalur pendakian Senaru merupakan jalur pendakian paling ramai, hal ini disebabkan selain sebagai jalur wisata treking juga kerap dipergunakan sebagai jalur pendakian oleh masyarakat adat yang akan melakukan ritual adat/keagamaan di puncak Rinjani atau Danau Segara Anak.  Rute pendakian yaitu Senaru – Pelawangan Senaru – Danau Segara Anak dengan berjalan kaki memakan waktu ± 10 – 12 jam melalui trail wisata yang berada dalam hutan primer dan sepanjang jalan trail telah disediakan sarana peristirahatan pada setiap pos. Dari pintu gerbang Senaru sampai Danau Segara Anak terdapat tiga pos. Sepanjang jalan trail pengunjung dapat menikmati keindahan hutan belantara dan bebatuan yang menakjubkan. Pendakian ke puncak umumnya dilakukan pada pukul 02 dinihari, ini dimaksudkan agar pada pagi harinya dapat menikmati matahari terbit (Sunrise) dari Pucak Gunung Rinjani serta dapat menikmati pemandangan seluruh pulau Lombok bahkan pulau Bali apabila cuaca cerah.

Cukup ya tentang infonya, sekarng giliran nik yang cerita. Oke.. oke. Dari kampus (Mataram) nik cs (nik nyebutnya “nik cs” aja ya biar gampang) ke pos pelaporan (sorry, nik enggak tau tepatnya namanya apa, yang pasti dosen kesana buat lapor). Nik cs sampai di pos itu ± 3-4 jam naik kendaraan umum engkel. Nik cs jalan dari kampus jam 10 pagi hitung sendiri deh jam berapa sampai pos lapor. Di pos ini nik cs istirahat untuk shalat dan makan siang. Sekitar jam 2 siang kami memulai perjalanan menuju gerbang senaru (orang sana menyebutnya “jebak gawah”), kenapa??? Ya karena dari sana nik cs akan mulai memasuki kawasan hutan dari Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Tapi masya Allah, luar biasa perjuangan untuk sampai ke gerbang senaru ini. Ya memang sih jarak dari pos tempat kami lapor ke gerbang senaru sekitar ± 1 km. tapi gila jalan ksana bikin betis langsung shock. Ya maklum pendaki amatir seperti nik cs yang waktu itu bawa tas yang besarnya hampir sebesar nik (ya kalian tau lah carrier besarnya seperti apa). Di dalam tas itu aja nik cs udah bawa 2 air botol ukuran 1 liter , eehh… kita malah dikasi air lagi waktu di pos lapor dan itu tidak tanggung-tanggug 2 botol air 1 liter lagi. Kalian bisa bayangin tidak, nik cs waktu mulai jalan ke gerbang senaru sambil bawa carier berat ditambah pegang 2 botol air 1 L (keliatan kayak nenek-nenek dan kakek-kakek bungkuk lagi gendong bayi kembar tau enggak…!!!). di perjalanan dosen dan coordinator assisten

(coordinator asisten: pendamping untuk praktikum) selalu menebarkan kata-kata yang bukannya buat capek kami berkurang ehh malah bikin makin tepar. Dosen bilang gini, “ ayo adek-adek.. ini masih belum apa-apa kita baru saja jalan kok sudah begini, bagaimana kalau naik ke bukit penyesalan nanti” (dalam hati nik angkat bicara: pak kayaknya yang lebih tepat dijadikan bukit pnyesalan yang ini deh pak.. baru jalan berapa meter aja kita udah pasang tampang nyesel. Liat aja face kami pak). Apalagi coo ass nambahin gini, “ee kalian ini belum apa-apa, dia atas itu jalannya lebih menanjak lagi!!!” (sapa yang enggak down kalau dengernya. coba aja kalo dosen dan coo ass bergaya kayak di iklan Mizone pasti nik cs jd enggak miring lagi jalannya!! lupakan).

Setiba di Gerbang Senaru, senengnya bukan main padahal itu baru gerbangnya tapi rasanya kayak udah sampai puncak. Disana kita Cuma istirahat sekitar 30 menit dan kita pun melanjutkan perjalanan menuju pos I. Sekilas info: Hutan TNGR ini punya tiga pos peristirahatan, Pos I, Pos II dan Pos III. Namun karena jarak antara pos I dan pos II yang lumayan jauh maka di antara dua pos itu dibangunlah Pos Extra. Sekian sekilas info dan kembali ke laptop (yee emang nik ngetiknya di laptop, gimana sih)!! Hhehee…

Setelah menempuh perjalanan selama ± 2 jam, nik cs akhirnya sampai juga di Pos I, dosen pun langsung menjelaskan tentang tumbuhan yang ada disana. Sekials info lagi: kami ke TNGR untuk meneliti spesies paku dan lumut yang menjadi endemic disana. Contohnya seperti lumut hati, lumut daun dan lumut janggut. Sekian sekilas info dan kembali ke laptop!!!hehhe…

Karena udah jam lima, nik dan beberapa teman  meminta ijin dosen untuk shalat ashar, maaf sebelumnya dosen nik cs itu non muslim tapi toleransinya luar biasa. Lucunya pada saat akan shalat teman-teman udah siap nik masih bingung jalan kesana kemari enggak jelas. Sampai ada teman yang dengan tampang sok polos bertanya, “nik, kamu ngapain enggak bisa diem kayak gitu, ayo shalat entar waktu ashar abis lo…” langsung nik bilang, “lagi deg-degan soalnya seumur hidup dari nik baru bisa shalat ini launching pertama nik bakal tayamum..hehehhe” (nyengir ikut bertampang polos). Pendek cerita, nik cs di pos I sampai jam 17.45 lalu kami melanjutkan perjalanan menuju pos Extra yang masih sekitar 1,2 km lagi. Tapi sebelumnya coo ass menyuruh kita untuk memasang senter kepala yang sudah kami bawa karena sebentar lagi malam (kebayang di otaknya nik malam pertama di hutan belantara..iiiihhh serreeem..!!!). ditengah perjalaannan menuju pos Extra yang nik cs pun disambut oleh sang malam dan suhu hutan yang mulai dingin. Tapi memang dasar jiwa humor yang enggak pernah hilang dari nik dan kawan-kawan. Ketika mungkin orang kain akan memilih diam dan terus berjalan karena dingin, kami malah bercanda karena saat kami bernafas dan berbicara keluar uap dari mulut nik cs. Sampai ada temen yang bilang gini, “weee semua coba liat saya kalo lagi ngomong… ato lagi ketawa hahhaha, keluar asap dari mulut saya kaya di Eropa kalo musim salju” (dalam hati nik bilang:”GAWAH!!!” Heee sorry teman becanda). Sebenarnya nik juga sama gawahnya sih sama itu orang, tapi gengsi mau ngaku. Setelah sekitar 1 jam berjalan malem-malem, ditengah hutan mana jalurnya menanjak dingin pula tapi tetap SERU karena jalannya rame-rame.

Setiba di pos Extra om-om porter lngsung mendirikan tenda dibantu oleh teman-teman cowok (porter: orang-orang/ laki-laki dewasa yang sengaja disewa untuk membawakan kami kebutuhan pokok, seperti sembako, tenda dan lain-lain. Om-om porter juga yang mejadi koki kami selama di TNGR. Kebetulan nik cs menyewa 4 porter dan 1 guide. Nama guidenya pak muntanom orang asli sana sih bukan bule, hhehhe ngarep ktmu bule). Suhu disana sudah lumayan dingin sekali dan luar biasa gelap tapi untungnya ada senter dan beberapa porter yang sedang memasak untuk kami makan malam. Sementara tenda didirikan nik dan teman-teman muslim mendirikan shalt magrib karena sudah jam 7 malam. Nik cs menginap di pos Extra hanya semalam karena besok pagi jam 7 kami sudah harus melanjutkan perjalanan ke pos II. Malam pertama di tengah hutan belantara (assyeekk.. cocok tuh dijadikan judul film horror, heheh lupakan brrayy!)

Keesokan paginya…. (maaf enggak ada bunyi kungkungan ayam maklum coyyy di hutan mana ada ayam kampong orang saudaranya si ayam hutan juga enggak ada!!hehehe). tapi subhanallah… suara burung-burungnya merdu banget.. pagi-pagi udah pada konser aja. Nik cs minta dibuatkan tunjang untuk membantu kami naik ke atas (ya iayalah naik itu ke atas masak  ke bawah hhehe).

Pendek cerita, nik cs akhirnya tiba di pos II. Rasanya masih enggak percaya bisa sampai ke pos II melihat kalau kita melihat kebawah yang tingginya luar biasa. Pemandangannya juga…. Cuma satu kata  yang bisa nik ungkapin“subhanallah”. Di pos II kita hanya istirahat kurang lebih 2 jam karena harus menunggu dosen dan teman-teman yang masih di bawah. Jadi yang sampai duluan harus menunggu karena di pos II ini akan ada materi lagi dari dosen tentang lumut-lumut yang sudah kami dapatkan di perjalanan tadi. Setelah penjelasan dari dosen selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju pos III kalau tidak salah waktu itu masih pukul 10 pagi.

Perjalanan ke pos III ini adalah perjalanan yang paling mengesankan bagi nik dari beberapa perjalanan sebelumnya. Menuju pos III nik dan beberapa teman adalah kelompok kedua yang akan tiba terlebih dahulu di pos III setelah kelompok satu yang terdiri dari beberapa teman dan juga om-om porter yang luar biasa mereka naik aja udah kayak jalan di tempat datar padahal barang yang mereka bawa jauh lebih berat dari nik cs (wajar coyyy modal pepatah ini “alah bisa karena biasa”). Oke nik sebut aja nama temen-temen di kelompoknya nik, ada Dana (cowok tinggi, kata orang mirip bule, lumayan ganteng kata orang and jago bahasa inggris hheeh dana kasi nit tips seribu dulu kan udah tadi muji-muji kamu), terus ada Yayik (cewek tinggi tapi sedikit kurus hheeh sorry mba yayik menyebutkan fakta), ada Da’ul (cewek berbadan sedang lebih tinggi sedikit dari pada nik hheehe), ada Nova (cewek tinggi, jilbaber tapi gitu-gitu kuat juga loh), ada Sarah (cewek berbadan sedikit berisi dan tingginya lebih tinggi beberapa inch dari nik) dan terakhir ada Nik (cewek yang pasti tinggi di antara teman-teman yang paling tinggi tadi heheheh).

Kami berenam menyusuri hutan belantara, hanya berenam di tengah hutan karena kelompok di belakang kami tertinggal jauh di belakang apalagi kelompok di depan kami, udah ninggalin jauh di depan. Tapi itu bukan  masalah buat kami karena ditengah perjalanan, setiap langkah dari kaki kami selalu diiringi dengan gelak tawa dan lelucon-lelucon yang enggak tau jelas atau enggak nik sendiri juga bingung. Mulai dari nyanyi yang dipimpin oleh Dana, pelesetan yang dipimpin oleh Sarah sampai acara makan-makan yang dipimpin oleh Nova yang bawa roti tawar sebesar bantal guling baby. Wehhhh wehh tapi kata mamanya sih untuk makan 3 hari heheh bener kan mba Nova. Tahu eggak nik aja sampai bingung entah gara-gara masuk hutan atau apa, kok bisa 85% dari jumlah teman-temannya nik jadi hobi kentut termasuk nik sih hehehe (mungkin juga karena anginnya terlalu kenceng, jadi nik cs jadi kebanyakan hirup udara makanya bawaannya pengen ngeluarin terus heheheh).

Masih tentang nik dan lima orang teman yang lain nih. Ceritanya gini (loohh kok jadi ada cerita dalam cerita… arrraghh lupakan biarin aja) waktu itu kan jalan setapak yang dilalui itukan hanya cukup untuk satu orang jadi kami berenam jalannya harus beriringan kayak bebek pak Udin (wadduuuuh siapa lagi tu pak udin dan apa hubunganya dengan nik cs??? lupakan). Setelah berjalan bebrapa meter Yayik yang berjala paling depan berhenti, ya kami yang lain heran kenapa yayik berhenti. Nik pun dengan santai bertanya kenapa yayik berhenti padahal dia belum mau istirahat. Dengan wajah aneh dia menyuruh kami jalan duluan karena dia ingin membuang sesuatu (apa lagi kalau bukan kentut..weeek baunya yik).

Belum lama setelah prosesi buang anginnya yayik, Da’ul yang berjalan paling depan juga tiba-tiba berhenti. Sekarang gentian Dana yang tanya kenapa. Da’ul yang dengan gaya khasnya sambil pegang perut nyuruh kami jalan duluan. Eh ternyata dia itu diam karena akan melanjutkan prosesi buang anginnya yayik (waduh apa-apaan ini, ini namanya polusi udara mbaaa… hahah kidding). Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kita memutuskan untuk istirahat dan memakan persediaan makannan yang masih ada, waktu itu kami memutuskan memakan roti bantal gulingnya Nova. Di tengah-tengah keasikan menyantap roti bantal guling, terdengar daun-daun dari pohon yang berada di samping kami bergerak seperti ada sesuatu disana. Reflex kami pun menongak ke atas dan mencari tahu apa itu. Ehhh ternyata yang ribut-ribut itu adalah seekor monyet ekor panjang yang sedang mencari makan. Anehnya tiba-tiba aja monyet itu diam melihat kami yang sedang makan, membuat kami bingung kenapa monyet itu ngeliat kami terus (dalam hati nik bilang: masa sih si monyet naksir salah satu dari kami berenam heheheh Cuma pikiran konyol aja soalnya inget sama eyang Charles Darwin sih). Ternyata yang dilihat monyet itu bukan kami, melainkan roti tawar yang kami pegang. Semakin lama monyet itu bergerak ke arah pohon yang lebih rendah dan semakin dekat dengan nik cs (waduh bahaya nih… walaupun monyetnya sendiri dan kami berenam ya tetep aja kami kalah, siapa tau monyet itu tiba-tiba berubah jadi kera sakti!!! Pikiran konyol!lupakan). monyet itu benar semakin dekat dan berhasil turun di jalan setapak, saat suasana sedang tegang tiba-tiba… tercium bau yang sangat tidak sedap tapi sangat dikenal jelas bau apa itu. Bau yang saking baunya sampai-sampai monyet yang sedikit lagi mendekat jadi buang muka dan pergi entah kemana. Nik cs pun bertanyaa-tanya siapa pahlawan dengan bom asap mematikan itu??? Ehhh tiba-tiba Sarah nyengir-nyengir sambil bilang, “kan udah saya bilang dari tadi saya pngen kentut… jadinya ya,,,” belum kelar Sarah menjelaskan alasan kami berenam saling pandang dan seketika tawa kami pun meledak. Momen yang enggak bakal kami lupakan, hahahha kalau diingat lagi jadi ingin ketawa. Apalagi kalau ingat ekspresi monyet yang menjadi korbannya Sarah, asli lucu banget!!!

Setelah kaki ini serasa baut-bautnya mulai longgar and mau lepas dan persediaan air sudah hampir habis, kami memutuskan untuk beristirahat setiap berjalan beberapa meter (sebenarnya belum satu meter aja nik cs udah istiraht hehehe biar dikira kuat gitu!!!). di tengah prosesi istirahat kami lewatlah seorang porter yang membawa sepasang bule di belakangnya. Kami berenam mungkin kompak ngomong dalam hati kecuali Dana. Insting cewek enggak mungkin nyamber Dana terus ngajak dia mikir hal-hal yang berbau cewek. Jadi tepatnya kami berlima kayaknya kompak mikir gini “wah kesempatan nih ngomong sama bule, hitung-hitung belajar bahasa inggris gratis hehehe… mana bule yang cowok tu lumayan ganteng lagi..” tapi lamunan kami buyar gara-gara Dana ngajak tu bule ngomong duluan. Nik enggak ngerti mereka ngomong apa. Yah.. tak ada akar rotan pun jadi. Enggak ngomong sama bule, ngomong sama porternya pun jadi. Sarah langsung tanya sama om porter, “pak pos III masih jauh enggak???” om porter jawab, “Ah enggak kok, tu udah deket di depan..” tanpa diajak nik langsung nimbrung, “yahhh tapi deketnya pak porter kan beda sama deket nya kita pak” dan teman-teman pun sependapat dengan nik. Sambil jalan di belakang om porter setiap lima menit sekali kami bertanya sama om porter dengan pertanyaan yang selalu sama, “pak porter, pos III udah deket belum sih???” dan om porter juga selau dengan jawaban yang sama, “ini di depan lagi bentar sampai” (mungkin om porter bosen denger nik cs yang udah kayak petugas sensus, tanya terus). Sudah hampir setengah jam berjalan kami tidak kunjung sampai, sampai akhirnya kami memutuskan istirahat dan mempersilahkan om porter jalan duluan bersama sepasang bulenya. Baru juga nik cs mau taruh pantat, eh om porter bilang, “kenapa berhenti,, ayo tetap ikutin saya. Di depan ada persimpangan lo.. kalian bisa nyasar kalau tidak tahu jalan” mendengar itu, seketika kami terlonjak dan mengurungkan niat kami untuk istirahat. Kami buru-buru lari mngejar om porter.

Setelah berjalan cukup jauh, persimpangan yang dikatakan om porter ternyata cuma akal-akalan om porter aja (dalam hati nik bilang: wah bener-bener nih pak porter tega banget kadalin kita. Kita manusia pak bukan kadal.. loohh!!). Akhirnya Nova angkat bicara, “pak porter dulaun dah, kaki saya udah enggak kuat buat jalan” dan kami pun juga demikian baut-baut kaki udah pada longgar (sejak kapan kaki punya baut ya… tau ah gelap). Setelah tertinggal om porter dan sepasang bulenya cukup jauh, kami masih asyik istirahat menikmati kabut yang berlalau tepat di atas kepala kami (kami sudah di ketianggian ribuan mungkin ya makanya kabut sampai ngacir di atas kepala hehehe). Kami melanjutkan perjalanan lagi dan menemukan jalan datar yang lumayan panjang setelah dibelakang tadi kami hanya melewati tanjakan dan tanjakan. Kami pun memanfaatkan keadaan dengan foto-foto hehhehe. Setelah puas kami lanjut jalan lagi, baru sebentar nik udah capek minta temen-temen istirahat. Kami pun memutuskan untuk istirahat, tak lama kami duduk terdengar seperti sesuatu yang datang dari atas… waah Hujaaaaannnn. Kami pun lari naik ke atas (sudah di bilangin, yaiyalah naik itu ke atas bukan ke bawah!lupakan). eh ternyata hujannya hanya sebentar, itu mungkin karena pengaruh kabut tebal di atas kami waktu kami istirahat tadi.

Kami pun memperlambat langkah kami dan akhirnya kami pun sampai di pos III. Sebenarnya bukan pos III tapi tepatnya beberapa meter dari pos III. Kami tidak bisa membangun tenda tepat di pos III karena pos III sedang sangat ramai oleh pendaki-pendaki lain. Maklum bulan juni-agustus seperti musim pendakian kalau di TNGR. Kami akan bermalam di dekat pos III. Sekaligus akan ujian tulis di tempat ini. Setiba nik cs disana, hujan lebat tiba-tiba turun. Alhamdulillah untungnya nik cs udah sampai sebelum si tukang kroyokan menyerbu. Tapi kasian juga sih yang datang belakangan, mereka kehujanan ya walaupun memakai jas hujan tapi tetap aja dingin. Di pos istirahat kami waktu itu, suhu disana sangat-sangat dingin mungkin dibawah 20 derajat celcius. Setelah hujan reda nik yang kena cipratan hujan jadi terpaksa harus ganti baju (sekalian udah dua hari enggak ganti baju hehheehe). Setelahnya baru nik shalat ashar sama temen2.

Di pos III ini nik cs akan bermalam, hanya satu malam karena besok pagi kata dosen pendakian yang sesungguhnya akan dimulai (What??? Terus dari dua hari yang lalu sampe sekarang nik cs bukan mendaki gitu, terus apa dong namanya, guling-guling???). sekittar jam 5 nik cs mulai mendapatkan materi lagi dari dosen mengenai lumut dan paku. Memang benar katanya pak dosen waktu masih di pos extra, kalau suhu di pos III dua kali lebih dingin dari pos extra. Sampai-sampai pada saat materi dijelaskan, nik cs kebanyakan menggigil karena saking dinginnya disana.

Setelah mendapat materi dari pak dosen, beliau menyuruh nik cs untuk menempel tumbuhan paku dan lumut di buku gambar yang sudah dibawa secara berkelompok. Sedangkan coordinator assisten mengawasi kami bekerja siapa tahu ada yang main-main atau ngerumpi gitu (yeee… boro-boro ngerumpi, buka mulut ja enggak kuat, diingiiinnn!!!).

Kakak2 coo ass

Setelah nik cs menempel paku dan lumut, nik cs diberikan waktu 30 menit untuk membuka kembali buku panduan praktikum kami karena setelahnya akan diadakan ujian. Ujian ini adalah sebagai ujian semester terkait materi paku dan lumut (nik baru pertama kali ujian semester di habitat asli materi yang akan diujikan!!! Muanttappp!!). tapi kami bukannya senang malah shock berat, karena kami hanya diberi waktu 30 menit, jadinya kami bukannya belajar malah ribut sendiri sambil protes-protes. Tapi dosennya enggak mau tahu. Yahhh… dengan kemampuan otak seadanya, nik cs mencoba belajar dengan serius ditemani udara pegunungan yang super duper dingin (kalau bahasa mpok nori sih “dingin badai..”).

Teeeeett waktu habis,, hehehee.. coo ass pun meminta nik cs untuk menutup buku karena ujian akan segera diadakan. Waahh kebayang enggak paniknya nik cs, belajar baru sedikit tiba-tiba harus ikut ujian. Tapi apa boleh buat, dengan berbekal ingatan jangka pendek nik cs pun akhirnya mengikuti ujian juga. Sembari nik cs ujian, om-om porter sibuk masak buat makan malam kami. Padahal lagi di hutan belantara, tapi tetep aja om-om porter itu goreng-goreng sambil konser plus ngerumpi (weehh weehh om-om porter ini ibunya nik aja enggak gitu-gitu amat kalau lagi masak di dapur!!! Ribut tahu kita kan lagi ujian!!!).

Nik cs selesai ujian sekitar pukul 7 lebih. Pos III sudah diselimuti kabut tebal dan suhunya semakin dingin luar biasa. Kami pun memutuskan untuk masuk tenda dan shalat magrib dan isya di dalam tenda saja. Setelah shalat isya, koki-koki kami alias om-om porter pun bersuara bukan nyanyi lagi tapi mereka teriak bilang “waktunya makan malaaammm!!!!”. Mendengar itu serentak nik cs keluar tenda untuk makan malam. Ditemani udara yang hampir membekukan tulang kami menyantap makan malam. Ya.. mungkin tidak senyaman makan malam di rumah, tapi kebersamaan yang kami alami waktu itu tidak akan bisa kami temukan dirumah. Asseekk..asseekk!!! setelah makan nik enggak langsung masuk tenda, nik malah nimbrung sama teman-teman yang lagi menhgangatkan badan depan tungku bekas masak om-om porter (abisnya pak dosen belum juga mulai buat api unggungnya!!!).

Pukul 9 malam, nik cs sudah tidak ada yang di luar tenda karena suhu di luar yang dingin banget. Kecuali om-om porter yang emang mungkin udah kebal kali ya sama dingin disana. Malam yang sangat sepi seperti malam-malam sebelumnya, malam ke dua di dalam hutan belantara. Hanya terdengar suara hembusan angin dan pohon-pohon yang digerakkan oleh para monyet di sana. Kalau diingat-ingat suara anginnya hampir menyamai suara ombak di pantai saking besarnya.

Besok paginya sekitar pukul setengah 4 pagi, om-om porter sudah teriak-teriak di luar untuk menyuruh kami membereskan barang-barang dan membawa keluar hanya senter, air minum dan alat tulis serta pakaian hangat. Tas kami akan dibiarkan di tenda dan dijaga oleh om-om porter. Sedangkan nik cs dengan pak dosen, 1 porter dan 1 guide kami bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tapi sebelumnya kami breafing dulu mengenai medan yang akan kami lewati. Setelah itu kami pun memulai pendakian dengan mengucapkan “bismillahhirrahmannirrahim” pendakian kami mulai. Pendakian kami ini start pukul 4 pagi (kebayang enggak jam 4 pagi, nik cs mulai daki. Suasana mencekam, gelap, jalan yang curam dan yang pasti sangat dingin). Setelah berjalan sekitar 300 meter, kami dapat melihat suasana di tiga kabupaten sekaligus, yaitu kabupaten Lombok barat, Lombok tengah dan Lombok utara. Pemandangan yang keren banget subhanallah, seperti melihat hamparan padang berlian. Beautiful…!!!

Perjalanan yang belum pernah terlintas dibenaknya nik kalau akan seperti ini. Berjalan di jalan setapak yang hanya cukup untuk satu orang, ditemani riuhnya suara angin bagaikan deburan ombak pantai, suhu dingin yang memaksa kami untuk terus bergerak agar tidak tersengat kedinginan. Jalan setapak yang nik cs lewati benar-benar amazing. Jalan setapak yang sempit, terjal dan diapit oleh dua jurang di kedua sisinya. Benar-benar luar biasa. Karena suasana waktu itu masih sangat gelap, maka nik cs berjalan perlahan agar tidak terpisah dan tetap berjalan beriringan. Setelah berjalan sekitar setengah jam, nik cs memutuskan untuk beristirahat. Seperti yang nik katakana sebelumnya, jika pada waktu itu kamu berada di sana, di waktu yang sama maka coba deh kamu membalikkan badanmu 180o dan lihat dengan mata kepalamu sendiri apa yang ada di depan mu (hamparan padang berlian yang tak berujung.. subhanallah).

Setelah berjalan setengah jam dari waktu istirahat tadi, nik cs memutuskan untuk berhenti dan mencari tempat yang datar di sekitar kami untuk kami menunaikan shalat subuh karena waktu itu memang sudah masuk waktu subuh (yaa.. walaupun enggak ada suara adzan, ya iyalah.. lu dimane bray.. mana ada masjid di atas bukit!!!). nik enggak tahu harus ngomong apa ya.. karena jujur seumur hidup baru pertama kali nik merasakan shalat yang begitu nikmat, nik merasa begitu tenang dan begitu dekat dengan-Nya. Ba’da subuh nik cs melanjutkan perjalanan, ternyata semakin jauh kami mendaki, medannya semakin curam dengan kemiringan yang benar-benar miring (nik enggak tahu kemiringannya berapa, sorry brrrayy nik anak biologi bukan fisika hehehe ngeles dikit!!!).

Perjalanan yang unforgettable banget deh pokoknya. Singkat cerita nik cs akhirnya tiba di sebuah tempat yang memiliki nama local “ cemare lime” (karena di tempat itu tumbuh menjulang dan berderet lima pohon cemara). Di tempat itulah nik cs istirahat, sebelum sampai sana bapak dosen sudah menginformasikan kalau di cemare lime kita akan beristirahat karena disana ada berugaknya. Tapi setiba nik cs di cemare lime, bukannya menemukan berugak untuk duduk, kami malah menemukan tempat lapang lengkap dengan sisa-sisa berugak yang seperti sudah terbakar untuk waktu yang sudah lama. Nik enggak tahu penyebab kebakarannya apa, ya… mungkin om-om pemadam kebakaran enggak keburu dateng karena mereka harus mendaki juga seperti nik cs (apa lagi ini.. mana ada pemadam kebakaran mau daki sampai ke sana, ngimpi kali..). nik cs di cemare lime lumaya lama, karena dengan berat hati cemare lime harus menjadi saksi bisu ke-narsis-an nik cs heheh. Waktu itu sekitar pukul 6 pagi, bapak dosen meminta kami untuk mengabadikan moment disana (tahu enggak, sebenarnya yang paling suka mengambil foto nik c situ bapak dosen, yah kami sih dengan senang hati menerima, mungkin karena kami foto genic kali ya.. ngareepp!!).

Dari cemare lime nik cs melanjutkan perjalanan, hari sudah mulai terang dan medan yang akan nik cs lewati juga sudah mulai terlihat. Betapa kagetnya nik melihat medan yang akan nik cs lewati. Medan yang curam dan di penuhi bebatuan uuhhh… dahsyat, nik merasa seperti pendaki sungguhan ketika melewati medan yang bisa di katakana medan terakhir yang harus kami lewati sebelum sampai di pelawangan. Nik cs benar-benar melewati medan yang berbatu dan sangat curam. Itulah alsannya kenapa pak dosen menyuruh nik cs untuk meninggalkan carrier kami di tenda dan hanya membawa yang diperlukan saja agar bisa mengatur keseimbanagan tubuh. Mantapp!!

Setelah berpuluh-puluh menit mendaki dengan penuh perjuangan (engga tahu tepatnya berapa, pandangan nik teralihkan oleh apa yang ada di sekeliling nik!!!), rasa lelah itu seperti hilang, ikut terbang terbawa angin. Karena selama perjalanan kami di suguhkan dengan pemandangan-pemandangan alam yang luar biasa membuat speechless dan subhanallah itu semua enggak semua orang bisa lihat secara live (iya secara live, kan kebanyakan kita Cuma lihat di tipi-tipi ama di koleksi mbah google aja, hehehe!!!). dari tempat kami berdiri juga sudah bisa terlihat perkemahan para pendaki yang lain dan hamparan bunga edelweiss, itu berarti sedikit lagi kami akan sampai di pelawangan. Waaahhh!!! Danau Segare Anak!!! Tunggu kami, kami datang!!!

Dan ladies and gentleman inilah kami persembahkan untuk kalian semua, tttaarrraaa!! Kami disambut dengan salam hangat dari Pelawangan, Danau Segare Anak, Gunung Rinjani, Gunung tertinggi kedua di Indonesia. Melihat apa yang ada di depan kami saat itu, perjuangan kami selama 3 hari 2 malam seperti hilang dan seperti terbayar oleh senyuman dari Danau Segare Anak. Subhanallah setibanya nik disana, rasanya bom atom di dalam hati ini hampir meledak karena tidak sanggup menahan perasaan nik saat itu. Rasa terharu, karena masih tidak menyangka bisa berdiri di sana, nik masih merasa seperti mimpi. Rasa syukur, karena Allah memberikan kesempatan melihat salah satu mahakarya-Nya dan bangga karena nik orang Lombok yang berkesempatan berjumpa dengan surge dunia daerahnya sendiri. Nik bangga menjadi orang Lombok (asyik bahasanya!!!).

Belum puas kami menikmati panorama langka yang ada di depan kami saat itu, dosen meminta kami untuk berkumpul karena ada penjelasan materi oleh dosen. Setelah pemaparan materi singkat dari dosen, dosen mengadakan tes terakhir untuk kami. Untuk pertama kalinya, kami melakukan tes tulis di tempat yang tak pernah terbayangkan dibenak kami sebelumya. Ditemani oleh matahari yang terbit di puncak rinjani, udara pegunungan yang sangat segar dan dingin, kami menjawab soal demi soal yang dibacakan oleh pak dosen (jangan ada yang nyontek yakh,,hehehe).

Beberapa menit setelah tes, dosen menyuruh kami untuk bersiap-siap turun dan kembali ke tenda. Wuaaaahh… nik cs belum siap untuk berpisah dengan rinjani, sedih banget kami harus segera turun. Kaki rasanya beras untuk beranjak dari tempat itu seperti menolak untuk berpisah (emang ya.. perpisahan itu selalu menyedihkan..hicks..hicks). Tapi kami memang harus segera turun, memang berat meninggalkan tempat itu namun kami juga harus mengingat keluarga kami di rumah yang sudah menunggu kami. “rinjani.., tunggu kami, karena suatu saat nanti kami akan kembali untuk berjumpa denganmu” (wahh sedihnya udah kaya drama korea tahu enggak!!!). dan lagi, dan kembali nik cs harus melewati medan yang membuat jantung bekerja lebih keras dari biasanya (medannya selalu membuat deg-degan brrayy). Singkat cerita, nik cs turun dengan selamat dan menginap satu malam lagi di gerbang senaru karena kami harus mengikuti respon akhir pada malam harinya. Besok paginya jam 7 baru kami berangkat pulang, kembali ke mataram. Terimakasih mau membaca kisahku, kamu juga harus bertemu ke rinjani dan tulislah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s