SUPERVISI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN, FUNGSI DAN PERAN SUPERVISI

1. Pengertian Supervisi

Sebelum supervisi dibahas secara lebih rinci, terlebih dahulu perlu diterangkan beberapa istilah yang dijumpai di dalam praktek, yang isi kegiatannya mirip dengan supervisi. Istilah-istilah yang dimaksud adalah: inspeksi, penlikan, pengawasan, monitoring, dan penilaian. Inspeksi berasal dari bahasa Belanda inspective . Didalam bahasa Inggris dikenal inspection. Kedua kata tersebut berarti pengawasan, yang terbatas kepada pengertian mengawasi apakah bawahan (dalam hal ini guru) menjalankan apa yang telah diinstruksikan oleh atasannya, dan bukan berusaha mambantu gguru itu (Ngalim Purwanto, 1990). Pelakunya disebut inspektor. Inspektor pendidikan bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan sekolah, masalah ketatusahaan, masalah kemuridan, keuangan, dan sebagainya sampai kepada proses belajar-mengajar.

Dalam perkembangan supervisi selanjutnya dikenal istilah penilikan dan pengawasan. Penilikan dan pengawasan mempunyai pengertian suatu kegiatan yang bukan hanya mencari esalahan objek pengawas itu semata-mata, tetapi juga mencari hal-hal yang sudah baik, untuk dikembangkan lebih lanjut. Pengawas bertugas melakukan pengawasan, dengan memerhatikan semua komponen sistem sekolah dan peristiwa yang terjadi di sekolah. Hal-hal yang kurang baik dicatat dan disampaikan kepada kepala sekolah atau guru untuk mendapatkan perhatian penyempurnaannya, sedang untuk hal-hal yang sudah baik perlu dipertahankan atau ditingkatkan lebih lanjut.

Monitoring sering sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan pemantauan. Monitoring berartikegiatan pengumpulan data dengan suatu kegiatan sebagai bahan untuk melaksanakan penilaian. Dengan kalimat lain, monitoring merupakan kegatan yang ditujukan untuk mengetahui apa adanya tentang sesuatu kegiatan. Di dalam monitorinng seseorang hanyamengumpulkan data tanpa membandingkan data tersebut tanpa kriteria tertentu.Kegiatan penilaian, yang juga disebut evaluasi merupakan suatu proses membandingkan keadaan kuantitatif atau kualitatif suatu objek dengan kriteria yang sudah ditetapkan sebelumnya. Evaluasi dimaksudkan untuk melihat apakah sumber yang tersedia, sesuatu kegiatan telah mengikuti proses yang ditetapkan serta mencapai hasil yang diinginkan.

Apabila inspeksi, penilikan dan pengawasan, monitoring, serta penilaian masih dalam usaha mengetahui status suatu komponen atau kegiatan sistem serta memahami kekurangan dan atau kekuatanya, maka supervisi telah mengandung pengertian tindakannya. Pengertian supervisi mencangkup arti yang terkandung dalam istilah-istilah yang sudah diterangkan itu. Disamping itu supervisi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu pengertian bantuan dan perbaikan.

Para ahli mendefinisikan supervisi berbeda satu sama lain. Daresh  (1989), misalnya mendefinisikan supervisi sebagai suatu proses mengawasi kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan organisasi. Wiles (1955) mendefinisikan sebagai bantuan dalam perkembangan situasi belajar-mengajar. Lucio dan McNeil (1978) medefinisikan tugas supervisi, yang meliputi:

  1. Tugas perencanaan, yaitu untuk menetapkan kebijakan dan program.
  2. Tugas administrasi, yaitu pengambilan keputusan serta pengkordinasian melalui konferensi dan konsultasi yang dilakukan dalam usaha mencari perbaikan kualitas pengajaran.
  3. Partisipasi secara langsung dalam pengembangan kurikulum, yaitu dalam kegiatan merumuskan tujuan, membuat penuntun mengajar bagi guru, dan memilih isi pengalaman belajar.
  4. Melaksanakan demonstrasi mengajar untuk guru-guru.
  5. Melaksanakan penelitian.

Sergiovanni dan Starratt (1979) berpendapat bahwa tugas supervisi adalah perbaikan situasi pengajaran. Dari berbagai definisi tersebut, kelihatannya ada kesepakatan umum, bahwa kegiatan supervisi pengajaran ditujukan untuk perbaikan pengajaran. Perbaikan itu dilakukan melalui peningkatan kemampuan professional guru dalam melaksanakan tugasnya. Untuk memudahkan kita dalam memehami supervisi pengajaran, supervisi dirumuskan secara sederhana, yaitu semua usaha yang dilakukan oleh supervisor untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki pengajaran. Dalam kerangka keseluruhan kegiatan pendidikan di sekolah, supervisi mempunyai kawasan tugas sebagai bagian dari kegiatan sekolah itu secara keseluruhan yang langsung berhubungan dengan pengajaran tetapi tidak langsung berhubungan dengan siswa.

2.      Tujuan, Fungsi dan Peran supervisi

a. Tujuan Supervisi

  • Meningkatkan mutu kinerja guru membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya. Membentuk kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat dan saling menghargai satu dengan yang lainnya. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa Meningkatkan kulaitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran. Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.
  • Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik.
  • Meningkatkan keefektifan dan keefesienan sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa.
  • Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasu belajar sebagaim,ana yang diharapkan.

b. Fungsi dan Peran Supervisi

Supervisi pengajaran seharusnya dilakukan oleh seseorang yang dididik khusus dan atau ditugaskan untuk malkuakan pekerjaan itu, dengan menggunakan keahlian khususnya. Bantuan perbaikan situasi belajar-mengajar yang dilakukan oleh orang yang bukan di-didik atau ditugasi untuk melakukan supervisi itu seharusnya tidak dapat dikategorikan ke dalam kegiatan supervisi pengajaran. Namun demikian, dinegara kita pekerjaan kegiatan supervisi pengajaran belum diakui sebagai bidang pekerjaan profesional. Di dalam Peraturan Pemerintah Nomer 38 Tahun 1992 telah terlihat arah profesional, meskipun belum tegas. Pasal 20 ayat 3 dalam peraturan tersebut mengatakan bahwa untuk menjadi pengawas perlu adanya pendidikan khusus. Tugas seorang supervisor bukan untuk membantu, mendorong, dan memberikan keyakinan kepada guru bahwa kegiatan belajar-mengajar dapat dan harus diperbaiki.

Pengembangan berbagai pengalaman, pengetahuan, sikap dan ketrampilan guru harus dibantu secara profesional sehingga guru tersebut dapat berkembang dalam pekerjaannya. Kegiatan supervisi dilakukan melalui berbagai proses pemecahan masalah pengajaran. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses belajar-mengajar. Dengan demikian, ciri utama supervisi adalah perubahan dalam pengetian peningkatan ke arah efektifitas dan efisiensi proses belajar-mengajar secara terus menerus. Program-program supervisi hendaknya memberikan rangsangan terhadap terjadinya perubahan dalam kegiatan pengajaran. Perubahan-perubahan ini dapat dilakukan antara lain antara lain melalui usaha inovasi dalam pengembangan kurikulum serta kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan untuk guru.

Perubahan merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dilakukan, baik karena tuntutan dari dalam kegiatan proses belajar-mengajar itu sendiri, maupun karena adanya tuntutan lingkungan yang selalu berubah pula. Ada dua jenis supervisi dilihat dari peranannya dalam perubahan itu, yaitu :

1)      Supervisi Traktif, yaitu supervisi yang hanya berusaha melakukan perubahan kecil karena menjaga kontinuitas. Supervisi traktif ini misalnya dapat dilihat dari kegiatan rutin seperti pertemuan rutin dengan guru-guru untuk membicarakan kesulitan-kesuliatn kecil, memberikan informasi tentang prosedur yang telah dispakati dan memberikan arahan dalam prosedur standar operasional (SOP) dalam suatu kegiatan.

2)      Supervisi Dinamik, yaitu supervisi yang diarahkan untuk mengubah secara lebih intensif praktek-praktek pengajaran tertentu. Tekanan dalam perubahan ini diletakkan kepada diskontinuitas, gangguan terhadap praktek yang ada sekarang untuk diganti dengan yang baru. Program demikian merupakan program baru yang mempengaruhi perilaku murid, guru dan semua personel sekolah.
Di dalam praktek, kegiatan supervisi tidak selalu berupa jenis kegiatan yang dapat digolongkan pada dua kutub secara mutlak, tetapi seringkali merupakan kegiatan yang berada pada kontinum dua kutub tersebut. Oleh karena itu, supervisi harus berdasarkan kebutuhan atau keadaan untuk memungkinkan perbedaan supervisi terhadap setiap guru dalam setiap kasus.

B. PELAKSANAAN SUPERVISI

Untuk melaksanakan fungsi dan peranan supervisi pengajaran di sekolah serta mengetahui bagaimana pelaksanaan supervisi pendidikan, perlu pemahaman tentang landasan dan siapa yang melaksanakan supervisi. Adapun landasan-landasan tersebut antara lain:

  1. Kegiatan supervisi pendidikan harus dilandaskan atas filsafat Pancasila.
  2. Pemecahan masalah supervisi harus dilandaskan kepada pendekatan ilmiah dan dilakukan secara kreatif.
  3. Keberhasilan supervisi harus dinilai dari sejauh mana kegiatan tersebut menunjang prestasi siswa dalam proses belajar mengajar.
  4. Supervisi harus dapat menjamin kontinuitas perbaikan dan perubahan program pengajaran.
  5. Supervisi bertujuan mengembangkan keadaan yang favorable untuk terjadinya proses belajar mengajar yang efektf.

Selain landasan-landasan di atas, perlu di ketahui tugas-tugas dari supervisor. Dimana tugas-tugas itu dikelompokkan menjadi tiga bagian, antara lain:

a.      Tugas Pendahuluan

Mencakup:

  • Mengembangkan kurikulum
  • Menyediakan fasilitas

b. Tugas Operasional

Mencakup:

  • Mengorganisasikan pengajaran
  • Memberikan orientasi kepada guru
  • Mengusahakan bahan
  • Menghubungkan layanan khusus murid dan layanan lain
  • Mengembangkan hubungan masyarakat

c. Tugas Perkembangan

Mencakup:

  • Mengatur pendidikan dalam jabatan
  • Melakukan evaluasi pengajaran

Suatu program supervisi pendidikan adalah rangka program perbaikan pendidikan dan pengajaran. Untuk itu di bawah ini dijelaskan mengenai pelaksanaan supervise pendidikan.

1.      Perencanaan

Perancaan adalah pemikiran dan perumusan tentang apa, bagaimana, mengapa, siapa, kapan dan dimana. Dimana dalam hal ini mencakup:

a. Prinsip-prinsip : kooperatif, kreatif, komprehensif, flexible, kontinu

b. Syarat-syarat :

  • Tilikan jelas tentang tujuan pendidikan
  • Pengetahuan tentang mengajar yang baik
  • Pengetahuan tentang pengalaman belajar murid
  • Pengetahuan tentang guru-guru
  • Pengetahuan tentang murid-murid
  • Pengaetahuan tentang masyarakat
  • Pengetahuan tentang sumber-sumber fisik
  • Factor biaya
  • Factor waktu

c. Proses : merumuskan what, why, how, who, when, where

2. Organisasi Program

a. Pola-pola :

  • Horizontal
  • Vertical

b. Langkah-langkah mengorganisir program :

  • Persiapakan suasana
  • Pertimbangan situasi
  • Penyusunan program
  • Pembagian tanggung jawab
  • Perwujudan program
  • Pembinaan perkembangan program
  • Integrasikan program dengan masyarakat
  • Persiapan program evaluasi

3.      Evaluasi

Evaluasi dalam hubungannya dengan pendidikan adalah menentukan sampai dimana tujuan-tujuan pendidikan yang ditetapkan telah tercapai.

  1. Prinsip-prinsip
  • Rencana harus komprehensif
  • Penyusunan harus kooperatif
  • Program harus kontinu dan berinteraksi dengan kurikulum
  • Lebih menggunakan data yang objektif daripada yang subyektif
  • Menghargai para participant
  1. Proses
  • Merumuskan tujuan evaluasi
  • Menyeleksi alat-alat evaluasi
  • Menyusun alat-alat evaluasi
  • Menerapkan alat-alat evaluasi
  • Mengelola hasil
  • Menyimpulkan
  1. Aspek-aspek yang dievaluasi :
  • Peronil → murid, guru, karyawan, wali murid, kepsek, supervisiü
  • Materiil → kurikulum, perlengkapan sekolah, administrasi, perlengkapan muridü
  • Operational → proses kepemimpinan, proses mengajar, usaha kesejahtraan personil, usaha
  • Integrasi sekolah dan masyarakat

4. Alat-alat :

a. Objektif :

  • Ujian karangan (essay examination)
  • Ujian objektif

b. Subjektif

  • Observasi
  • Wawancara
  • Angket
  • Checklist dan rating-scale
  • Laporan pribadi dan tekhnik projektif
  • Catatan-catatan anekdot
  • Catatan-catatan komulatif
  • Case study
  • Sosiometri
  • Laporan stenografis
  • Buku-buku catatan
  • Kotak saran
  • Rapat-rapat supervisi

Jadi pada intinya pelakasanaan supervisi pendidikan perlu menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Dengan cara memahami dan menguasai dengan seksama tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenaga pendidikan profesional yang harus melaksanakan kegiatan pengajaran dan pendidikan. Jika sikap supervisor memaksakan kehendak, menakut-nakuti, perilaku negatif lainnya, maka akan menutup kreativitas bagi guru. Jika sikap supervisor hanya seperti itu, maka ia belum mengetahui tugas pokok fungsi sebagai seorang seorang supervisor.

C. PENDEKATAN DAN TEKNIK SUPERVISI

Ada beberapa pendekatan dan teknik supervisi yakni:

  1. Pendekatan humanistik
  2. Pendekatan kompetensi
  3. Pendekatan klinis
  4. Pendekatan professional

Adapun penjelasan pendekatan-pendekatan tersebut yakni:

1.      Pendekatan humanistic

Ini merupakan pendekatan yang sering dipakai dalam supervisi dimana pendekatan ini timbul dari keyakinan bawa guru tidak dapat diperlakukan sebagai alat semata-mata untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Guru bukan masukan masukan mekanistik dalam proses pembinaan, dan tidak sama dengan masukan system lain yang bersifat kebendaan. Dalam proses pembinaan, guru mengalami perkembangan secara terus-menerus, dan program supervisi harus dirancang untuk mengikiuti pola perkembangan itu. Tugas supervisor adalah membimbing sehingga makin lama guru makin dapat berdiri sendiri dan berkembang dalam jabatannya dengan usaha sendiri. Belajar harus dilakukan melalui pemahaman tentang pengalaman nyata yang dialami secara riil. Dengan demikian guru harus mencari sendiri pengalaman itu secara aktif. Dorongan dapat berasal dari dorongan yang bersifat fisiologis secara berangsur-angsur dorongan belajar harus datang dari dalam, yaitu karena guru merasa bahwa belajar merupakan kewajiban yang harus dilakukan dalam tugasnya. Supervisor percaya bahwa guru mampu mmelakukan analisis dan memecahkan masalah yang dihadapinya dalam tugas mengajarnya. Guru merasakan adanya kebutuhan bahwa ia harus berkembang dan mengalami perubahan, selanjutnya ia bersedia mengambil tanggung jawab terjadinya perubahan itu. Jika kondisi seperti itu ada, maka perbaikan pengajaran itu dapat terjadi. Supervisor harus hanya berfungsi sebagai fasilitator dengan menggunakan struktur formal sedikit mungkin.

Teknik supervise yang digunakan oleh para supervisor yang menggunakan pendekatan humanistic tidakk mempunyai format yang standar, tetapi tergantung kepada kebutuhan guru. Mungkin ia hanya melakukan observasi tanpa melakukan analisis dan interpretasi, mungkin dia hanya mendengar tanpa membuat observasi atau mengatur penataran dengan atau tanpa member sumber dan bahan belajar yang diminta guru. Jika tahapan supervise dibagi menjadi tiga bagian(pembicaraan awal) , observasi, analisis dan interpretasi(pembicaraan akhir), maka supervise dilakukan sebagai berikut:

1)      Pembicaraan awal: dalam pembicaraan awal, supervisor memancing apakah dalam mengajar guru menemui kesulitan. Pembicaraan ini dilakukan secara informal. Jika di dalam pembicaraan ini guru tidak minta dibantu, maka proses supervise akan berhenti. Ini yang disebut dengan titik lanjutan atau berhenti.

2)      Observasi : jika guruperlu bantuan, supervisor mengadakan observasi kelas.

3)      Analisis dan interpretasi : sesudah melakukan observasi, supervisor kembali ke kantor memikirkan kemungkinan kekeliruan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

4)      Pembicaraan akhir : jika perbaikan telah dilakukan, pada priode tertentu guru dan supervisor mengadakan pembicaraan akhir. Dalam pembicaraan akhir ini, supervisor berusaha membicarakan apa yang sudah dicapai guru, dan menjawab kalau ada pertanyaan dan menanyakan kalau-kalau ada guru perlu bantuan lagi.

5)      Laporan : laporan disampaikan secara deskriptif dengan interpretasi  berdasarkan judgment supervisor.

2.       Pendekatan kompetensi

Pendekatan ini mepunyai makna bahwa guru harus mempunyai kompetensi tertentu untuk melaksanakan tugasnya. Pendekatan kompetensi didasarkan atas asumsi bahwa tujuan supervise adalah membentuk kompetensi minimal yang harus dikuasai guru. Guru yang tidak memenuhi kompetensi itu dianggap tidak akan produktif. Tugas supervisor adalah menciptakan lingkungan yang sangat terstruktur sehingga secara berharap guru dapat menguasai kompetensi yang dituntut dalam mengajar .

Adapun teknik supervise yang menggunakan pendekatan kompetensi, yakni:

1)      Menetapkan kreteria unjuk kerja yang dikendaki

2)      Menetapkan target unjuk kerja

3)      Menentukan aktivitas unjuk kerja

4)      Memonitor kegiatan untuk mengetahui unjuk kerja

5)      Melakukan penilaian terhadap hasil monitoring

6)      Pembicaraan akhir

Instrument supervise yang digunakan dalam pendekatan ini adalah fomat-format yang berisi:

1)      Tujuan supevisi

2)      Target yang akan dicapai

3)      Tugas supervisor dan guru untuk memperbaiki unjuk kerja guru

4)      Kreteria pencapaian target

5)      Pengumpulan data monitoring

6)      Evaluasi dan tindak lanjut

 3.      Pendekatan klinis

Asumsi dasar pendekatan ini adalah bahwa proses belajar guru untuk berkembang dalam jabatan tidak dapat dipisahkan dari proses belajar yang dilakukan guru. Pendekatan ini mengkombinasikan target yang terstruktur dan perkembangan pribadi.

Supervise klinis adalah suatu proses tatap muka antara supervisor dengan guru yang membicarakan hal mengajar dan yang ada hubungannya dengan itu. Pembicaraan ini bertujuan untuk membantu pengembangan  professional guru dan sekaligus untuk perbaikan proses pwngajran itu sendiri.

Goldhammer, Anderson dan Krwjewski (1980) mengemukakan sambilan karakteristik supervise klinis, yaitu:

  1. Merupakan teknologi dalam memperbaiki pengajaran
  2. Merupakan intervensi secara sengaja ke dalam proses pengajaran
  3. Berorientasi kepada tujuan, mengombinasikan tujuan sekolah, dan mengembangkan kebutuhan pribadi
  4. Mengandung pengrtian hubungan kerja antara guru dan supervisor
  5. Memerlukan saling kepercayaan yang dicerminkan dalam pengrtian,, dukungan,, dan komitmen untuk berkembang
  6. Suatu usaha yang sistematik namun memerlukan keluesan dan perubahan metodologi yang terus menerus
  7. Menciptakan ketegangan yang kreatif untuk menjebatani kesenjangan antara keadaan real dan ideal
  8. Mengasumsikan bahwa supervisor mengetahui lebih banyak dibandingkan dengan guru.
  9. Memerlukan latihan untuk supervisor.

Terdapat lima langkah dalam melaksanakan supervisor klinis yaitu :

a)      Pembicaraan pra-observasi

b)      Melaksanakan observasi

c)      Melakukan analisis dan menentukan strategi

d)     Melakukan pembicaraan tentang hasil supervise

e)      Melakukan analisis setelah pembicaraan

4.      Pendekatan professional

Asumsi dasar pendekatan ini adalahbahwa karena tugas utama profesi guru itu adalah mengajar maka sasaran supervise juga harus mengarahkan pada hal-hal yang menyangkut tugas mengajar itu, dan bukan tugas guru yang sifatnya administrative.

Supervise professional tidak jauh berbeda dengan bentuk supervise lainnya. Jika di dalam supervise lainnya guru mendapatkan pembinaan dari pihak atasan, maka dalam pendekatan ini guru dapat bimbingan dari sejawatnya. Meskipun guru juga mendapat bantuan dari kepala sekolah dan pengawas, tetapi sifat bantuan itu adalah kolegial.

Melalui penggugusan, KKG dan PKG maka langkah-langkah pembinaan  sebagai berikut:

  1. Tahap pertemuan
  2. Tahap pengajuan masalah
  3. Tahap pembahasan
  4. Tahap implementasi
  5. Tahap pengumpulan balikan

D. PERAN GURU DALAM PELAKSANAAN SUPERVISI

Supervisi pendidikan secara teori dapat meningkatkan kemungkinan efektivitas dan efisiensi kinerja guru. Dalam manajemen sekolah yang modern istilah supervisor tidak harus digambarkan oleh seorang pimpinan sekolah atau kepala sekolah. Guru juga dapat menjadi seorang supervisor terhadap guru yang lain secara tidak langsung.

Peran guru dalam pelaksanaan supervisi pendidikan adalah sebagai berikut :

a. Memberikan sumbangan berupa pikiran, ide, maupun pendapat mengenai pelaksanaan supervisi

Guru sebagai pelaksana langsung supervisi pendidikan mengetahui bagaimana karakteristik praktik supervisi pelaksanaan yang mempunyai hal-hal yang perlu dibenahi atau kurang cocok. Oleh karena itu seorang guru dapat memberikan sebuah pendapat kepada supervisor dalam pelaksanaan supervisi pendidikan.

b. Guru sebagai pelaksana supervisi

Seperti yang telah dijelaskan bahwa guru dapat menjadi supervisor bagi guru yang lain secara tidak langsung. Misalnya, seorang guru secara tidak langsung melihat cara mengajar guru di kelas sebelah, kemudian dicari kekurangan dan kelebihan guru yang mengajar tersebut kemudian hal tersebut dibicarakan baik dalam suatu pertemuan yang formal maupun informal.

c. Membantu pihak sekolah mensosialisasikan supervisi kepada orang tua siswa

Ada kalanya pelaksanaan supervisi mempunyai dampak terhadap proses pembelajaran siswa karena kinerja guru yang semakin terlatih dengan berbagai pendekatan dan metode-metode yang modern akibat hasil dari supervisi tersebut. Guru secara tidak langsung juga dianjurkan untuk menjelaskan perubahan ini kepada orang tua siswa agar mereka mandapatkan informasi dari supervisi tersebut kemudian mencoba dihubungkan dengan hasil pembelajaran siswa apakah sudah sesuai atau belum.

d. Sebagai salah satu bahan pertimbangan supervisor dalam melakukan pembaharuan

Dalam hal ini supervisor dipegang oleh kepala sekolah. Guru sebagai subyek dalam pelaksanaan supervisi sudah pasti mengalami setiap proses dalam pelaksanaan supervisi yang kemudian menghasilkan sesuatu baik bersifat nyata maupun abstrak sebagai hasil dari pelaksanaan supervisi tersebut. Dari hasil tersebut supervisor dapat mengetahui sejauh mana upaya supervisi tersebut dapat mencapai sasaran kemudian supervisor dapt melakukan berbagai pembaharuan terhadap supervisi tersebut guna mengoptimalkan pelaksanaan supervisi.

  1. Menjelaskan supervisi pendidikan kepada siswa

Supervisi pendidikan merupakan upaya pelayanan kepada guru agar kinerja guru semakin baik. Hal tersebut bisa menjadi pengetahuan tersendiri bagi siswa karena supervisi tidak hanya dilakukan di sekolah tapi dilakukan di setiap organisasi. Guru dapat menjelaskan tentang proses supervisi pendidikan di institusi tempatnya berkarya kepada para siswa sebagai bahan pengayaan bagi siswa.

E. Implementasi Guru sebagai Supervisor

Supervisor pada dasarnya dapat dilakukan oleh siapa saja dalam suatu organisasi. Kita sering mendengar jabatan supervisor dipakai oleh atasan atau jabatan fungsional yang lain dalam suatu organisasi termasuk institusi pendidikan seperti sekolah. Tapi dalam manajemen modern tugas supervisor dapat dilakukan oleh anggota suatu organisasi secara tidak langsung dan tidak formal begitu juga dalam sekolah. Tapi pelaksanaan tugas supervisor oleh guru mempunyai batasan tertentu. Tugas supervisor yang dapat dilakukan antara lain :

a. Guru sebagai contoh

Guru sebagai contoh mempunyai pengertian bahwa salah satu guru mempunyai kelebihan atau karakteristik yang beda dari guru yang lain. Karakteristik tersebut dapat menjadi teladan bagi guru yang lain dengan catatan bahwa karakteristik tersebut bersifat positif. Dengan begitu secara tidak sadar, guru yang dijadikan contoh tersebut menjadi supervisor bagi guru yang lain.

b. Proses sharing of ideas

Sharing of ideas mempunyai arti sebuah proses tukar menukar pandangan tentang suatu obyek yang telah atau sedang dilaksanakan oleh guru sebagai bentuk penilaian mereka terhadap obyek tersebut. Pelaksanaan kegiatan bermanfaat untuk membantu guru dalam pelaksanaan kinerjanyan melalui pengalaman yang dialami oleh guru lain serta untuk mempererat kerjasama dan silaturahmi antar guru. Sharing of ideas dapat dilakukan secara formal maupun informal.

c. Merancang supervisi klinis

Supervisi klinis merupakan supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis yang intensif terhadap penampilan pembelajaran. Supervisi klinis dapat dilakukan oleh guru melalui pertemuan-pertemuan yang melibatkan guru. Melalui pertemuan tersebut guru dapat menyusun sebuah keterampilan intelektual kemudian dipelajari lebih mendalam agar kualitas proses pembelajaran dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam rangka peningkatan mutu guru.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http://reda_dipa.student.fkip.uns.ac.id/2010/09/14/guru-juga-sebagai-supervisor/). (Diakses              tanggal 9 Oktober 2012).

Huda, Khoirul. http://www.sarjanaku.com/2011/05/supervisi-pendidikan.html. (Diakses              tanggal 9 Oktober 2012).

Ardiansyah, M. Asrori. http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/prinsip-fungsi-dan-peran-supervisi.html. (Diakses tanggal 9 Oktober 2012).

Soetjipto dan Raflis Kosasi. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s