NAMA BARU UNTUK LANGIT : KUBAH AGUNG


Sebelum kawan melanjutkan membaca cerita di balik judul di atas , bacalah puisi dibawah ini terlebih dahulu…..

 

The Sky is What I Feel

Mata kecil terjaga oleh pancaran suar menyilaukan

Pupil mungil teraliri sinar yang bersembunyi di balik angin

Lalu, sebuah goresan abstrak terlukis pada permukaan retina

Hamparan biru luas tak terbatas yang tak pernah bisa terjangkau

Kami memanggilnya Kubah Agung

Dia adalah proyeksi setiap perasaan

Kala air mataku jatuh, maka menangislah sang hujan

Kala bibirku merekah, maka dia berbinar cerah

Kala hatiku berteriak, maka menderulah sang badai

Kala jiwaku terhempas sedih, maka bangunlah sekelompok awan mendung

Kala ragaku rengkah patah, maka mengamuklah angin tornado

Kala diri ini berduka, maka bersedihlah langit malam kelam

Kala nafasku menghembuskan cinta, maka berkediplah sang bintang

Dan, kala aku tenggelam dalam laut kasih sayang, maka langit sore

memerah malu

Karena kubah agung adalah lukisan perasaanku

 

Begitu banyak kesan yang ingin aku ungkapkan setelah membaca novel yang berjudul  “Izinkan Aku Bersujud”. Karya Tyas Effendi. Tetapi yang paling mengesankan buatku adalah karena aku dan tokoh dalam novel itu yang bernama Zevrin, memiliki perasaan tersendiri saat menengadahkan wajah ke atas atap jagad raya, yang kita kenal dengan nama langit.

Awalnya sebelum aku memutuskan untuk mengambil novel ini untuk aku baca dari sekian banyak novel yang ada di rak buku perpustakaan, aku dari kecil memang sangat suka memandang langit. Aku begitu kagum dengan salah satu ciptaan Allah SWT. Itu. Subhanallah… kata itu yang pertama kali keluar dari  mulutku ketika aku menengadahkan wajahku ke atas, ke langit.

Sejak aku masuk Sekolah Menengah Pertama, duduk di balkon rumahku adalah salah satu hal yang hingga saat ini masih suka kau lakukan. Tepatnya duduk di kala pagi dan senja. Apapun bentuk perasaanku saat itu dan saat sekarang langit tengah melukiskannya. Sama seperti tokoh Zevrin dalam novel itu, dalam puisi di ataslah aku merasa memiliki kesamaan dengannya.

Aku tidak menyangka akan begitu menyukai novel ini, tetapi setelah membacanya aku selalu merasa novel ini sedang menarikku untuk menyukainya. Dan benar adanya, aku begitu tertarik dengan ceritanya. Memang ini bukan novel pertama yang aku pernah baca, tetapi karena setiap novel yang aku baca pasti memiliki daya tarik tersendiri. Dan daya tarik novel ini adalah seperti puisi yang di buat penulis novel di atas.

Selain itu, satu lagi puisi, sebenarnya tepatnya bukan puisi tetapi sebuah lirik lagu yang mengingatkan kita akan sifat-sifat Allah SWT. yang sangat menyentuh bagiku. Lirik lagu ini dalam novel “Izinkan Aku Bersujud” adalah sebuah lagu pujian untuk Allah SWT. yang disenandungkan oleh seorang tokoh lain dalam novel tersebut yang bernama Wahid. Wahid menulis lirik lagu itu di dalam buku harian adik laki-lakinya yang bernama Fahiya. Dia menulis lagunya dalam bahasa Negara mereka, Negara Libanon. Lagu yang membuat hati Zevrin, seorang perawat rumah sakit menjadi bergetar saat mendengar Fahiya melantunkannya. Maka dari itu bacalah kawan puisi/lirik lagu di bawah ini:

The Almighty God

Ketika kau merasa dunia kosong oleh nyawa-nyawa, ingatlah bahwa Tuhan itu ada

Ketika kau merasa baru menghirup nafas kehidupan, ingatlah bahwa Tuhan Maha dahulu

Ketika kau kehilangan semua yang kau indahi, ingatlah bahwa Tuhan Maha kekal

Ketika menghitung apapun serba ganda, ingatlah bahwa Tuhan Maha Esa

Ketiak kau telah melukiskan potongan hidupmu dengan sempurna, ingatlah bahwa Tuhan Maha Berkuasa

Ketika kau berada di persimpangan jalan yang harus kau pilih, ingatlah bahwa Tuhan Maha Menentukan

Ketika kau mengagungkan sebuah nama dalam tahajudmu, ingatlah bahwa Tuhan Maha Tahu

Ketiaka kau mengerti kisahmu tak selamnya, ingatlah bahwa Tuhan Maha Hidup

Ketika kau membisikkan tahmid sepelan suara angin, ingatlah bahwa Tuhan masih dapat medengarmu

Ketika kau menyembunyikan apapun di sudut dunia, ingatlah bahwa Tuhan selalu melihatmu

Ketika kau melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an seindah nyanyian alam, ingatlah bahwa Tuhan Maha Berkata-kata

Ketika kau menemukan segala kesamaan yang ada, ingatlah Tuhan berlawanan dengan semua yang baru

Ketika kau merasa goyah dalam langkahmu, ingatlah bahwa Tuhan Maha berdiri dengan Sendirinya

Zevrin, tokoh utama dalam novel itu, telah memberikan tambahan perasaan menakjubkan bagiku. Karena dia begitu mengagumi langit, seperti aku mengagumi apa yang dia kagumi juga. Yang paling penting, Zevrin memberikanku nama dan ungkapan baru untuk langit, yaitu Kubah Agung, The Sky is What I Feel.

Setelah membaca novel itu, kala senja tiba aku berdiri di balkon rumaku. Hal yang sering aku lakukan setiap harinya. Aku menengadahkan wajahku ke atas, sambil menarik nafas perlahan ku tutup kedua indra penglihatanku dan seketika akupun merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Tetapi yang pasti Maha Suci Allah yang telah menciptakannya.

Setelah aku membuka mataku, wajahku masih memandang langit senja yang berwarna merah menenangkan. Sejak saat itu aku sadar, ternyata apa yang aku pandang saat itu, apa yang aku kagumi selama ini bukan hanya langit, bukan hanya sekedar hamparan atap jagad raya yang menaungi semua ciptaan Allah SWT. yang ada di dunia ini. Jika kau, kawan, lebih dalam memandang ke atas sana, kau pasti akan menyadari bahwa selama ini kau seperti berada di bawah sebuah kubah yang maha luas. Kau bagaikan berada di bawah lengkungan kubah yang tak memiliki batas. Subhanallah..! tidak salah Zevrin dalam novel itu mengaguminya sebagai kubah agung. Subhanallah .. Maha Suci Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s