KEPALA SEKOLAH VS NINJA ASSASSIN


Ini kisahku kisah, kisah ku dan teman-temanku waktu di masa putih abu-abu dulu. Namaku Nik, aku dan 34 teman-teman sekelasku di IPA 1. Afril, Azim, Riadi, Arif, Arya, Angga, Diah, Mutia, Alwan, Herlinda, Hijja, Ina, Mia, Erul, Rasyid, Wisnu, Wulan, Marina, Fani, Ria , Najjah, Za, Rahmat, Rhandy, Tini, Yuni, Naning, Wandy, Firdha, Tutik, Yenny, Yogy, Rina, Reza dan Zul. Itulah mereka. Yang dengan mereka aku bisa bisa menciptakan berjuta cerita masa SMA.

Masa SMA adalah masa yang paling indah. Tidak ada yang menolak akan pernyataan itu. Begitu juga dengan aku dan teman-teman SMA ku. Dan inilah beberapa story kami.

Waktu itu kami kelas XI dan waktu itu juga adalah minggu tenang bagi kakak-kakak kelas XII. Karena senin minggu berikutnya mereka akan berperang melawan pasukan soal-soal Ujian Nasional. Kelas kami adalah satu-satunya kelas XI yang berdampingan dengan kelas-kelas XII. Jadi minggu tenang merupakan minggu yang menegangkan untuk kakak-kakak kelas XII tetapi minggu yang menyenangkan bagi kami kleas XI khususnya kelasku. Karena jika kakak-kakak itu masuk sekolah, kami akan menjadi sasaran mereka. Dari sasaran untuk dijahilin sampai sasaran untuk dipacarin.

Siang hari yang panas, mata pelajaran kewarganegaraan (KWN). Namun guru kami berhalangan hadir, bukan karena malas melainkan harus menyelesaikan tugas. Karena cuaca hari itu sangat panas, guru juga sedang ada tugas, buku dan alat tulis kami pun kami lepas. kami memutuskan untuk bermain-main di kelas. Itulah kami, itulah masa SMA. Jika guru absent mengajar, siswa juga absent belajar. Tetapi hal itu tidak berjalan selamanya. Karena malas belajar akan membuat masa depan kami terdampar. Itu yang masih membuat kami sadar untuk tetap harus belajar.

Di tengah-tengah keributan yang kami buat, Erul, si tinggi berkaca mata memulai kebosanannya. Sambil mengepak-kepakkan buku ke wajahnya, dia bergumam “ heeehmh bosen ne, gag ada kita kerjain.. kepanasnya juga hari ini.. huh..!!”. Mendengar Erul Rahmat menimpali, “ udah rul.., diem dah di kelas gag usah keluar. Ntar dimarah sama pak kepsek. Saya aja terus ntar yang disalahin yang jadi ketua kelas..”.

“ arooh met gag apa pak kepsek tau kita ngapaen..” kata Erul sambil berjalan keluar kelas. Tiba-tiba kepala Rahmat celikukan kesana kemari seperti mencari sesuatu sambil berkata, “ wee.. mana anak-anak cewek yang lain, eeehh mereka pada kekantin sudah ini..”

“ Ran.. kamu bawa laptop gag hari ini?? Mending kita nonton film ketimbang nganggur-nganggur gag jelas.. mana meh!!” tiba-tiba Zul angkat bicara.

“ iya Ran keluarin meehh..” Wisnu yang duduk di pinggir jendela setuju dengan Zul.

“ tuu dah ambil sendiri di tas saya..” kata Randy sambil menunjuk letak tasnya.

Sambil memegang laptop Zul sedikit berteriak, “ we.. temen-temen kita nonton film ayouk.. ada film bagus ne, judulnya “Ninja Assassin”. Kalo kalian nonton film ini pasti kalian teriak-teriak. Apa lagi yang cewek-cewek ini.. iiiieeee centil deh.. nonton ayouk!! ”

Tanpa pikir panjang kami semua memutuskan mengisi kebosanan kelas dengan menonton film yang ada di laptop. Beberapa teman cewek baru datang karena memang Rahmat benar, mereka baru datang dari kantin yang ada di bawah kelas kami.

“ wee gag bilang-bilang ya.. lagi nontn apa sih itu?? Ikutan mehh..” kata Hijja yang baru datang sambil mendorong pintu masuk kelas.

“ ya abang ne film apa sih..” kata Firda mengikuti.

“ sini makanya ambil kursi sana kita nonton film di bioskop ne heee heee” kata Zul sambil NYengir-nyengir sendiri.

“ Met panggil anak-anak tu semua sana suruh masuk dia..!! ” Wisnu menyuruh Rahmat.

“ biarin dah ntar masuk sendiri juga mereka.. udah nonton dah dulu..” Rahmat menolak permintaan Wisnu.

“ gag usah besarin volumenya entar kedengeran sampai bawah entar.. mati dah kita kalo ketauan…” Pinta Randy dengan cemas.

“ we angkak pade rebut.. tedok tedok wah..” Erul mulai kesal.

Akhirnya satu kelas pun berkumpul saling berjejalan demi menonton sebuah film dari laptop yang dibawa Randy. Tebakan Zul tidak meleset. Karena suasana dikelas menjadi ricu karena suara-suara nyaring cewek-cewek yang merasa ngeri menonton aksi battle berdarah yang terjadi di dalam film. Keseriusan menonton film itu membuat kami lupa waktu. Karena seiring waktu berlalu filmnya pun semakn seru.

“Wis, coba cek battreinya masih banyak ndak??  ”. seru Rhandy dari luar depan pintu kelas. Lalu Wisnu mengecek battrei laptopnya Rhandy sambil mengambil jarak yang cukup jauh agar tidak mengganggu penonton. “ Ran, tinggal dikit ne, dimana kita nge-charge sekarang ne..??” kata Wisnu.

“padahal lagi seru-serunya ini, cepetan dah cari sana tempet nge-charge entar sambilan caranya..” sahut Firdha kesal. “tu aja kelas di samping kelas kita, kelas bahasa. Gag ada kakak kelas juga. Mereka kan pada libur..” Saran Angga’.

Langsung saja semua setuju dengan usulan Angga’. Karena tak sabar ingin melanjutkan acara nonton-nontonnya. Zul pu cepat-cepat menekan “pause” dan membawa laptop Rhandy menuju ke kelas bahasa. Belum sampai pintu kelas, Rahmat tiba-tiba berlari kea rah into yang terbuka dan menghadang kami keluar.

“ up dulu we, saya lihatkan dulu ke luar, saya cekkan dulu. aman gag, ada guru gag…” jelas Rahmat, sang ketua kelas. Sambil celingukan sana-sini, setelah itu menghadap ke kelas sambil mengcungkan jempolnya pertanda situasi aman terkendali. Kami berjalan menuju kelas bahasa dengan mengendap-endap karena takut kalau nanti guru yang lagi mengajar di bawah mendengar bunyi sepatu kami. Setiba di kelas Bahasa, laptop langsung di charge dan kami melanjutkan nonton filmnya. Tetapi rasanya berbeda ketika di kelas kami sebelum pindah ke kelas Bahasa. Karena kami menonton dengan perasaan was-was, harap-harap cemas di dalam ruang kelas yang super panas.

“ Wandy gentian ayok jagain sini, saya juga pengen nonton ne..” pinta Rahmat yang dari tadi mengawasi keadaan di luar dari balik gorden jendela.

“eee saya aja pengen nonton ne.., suruh Wisnu tu, dia juga udah pernah nonton.!!” Tolak Whandy. “ yah dah ayook.., awas Met.., ” kata Wisnu mengalah, dengan menyibakkan sedikit gorden jendela yang sengaja kami tutup, Wisnu menyipitkan mata memeriksa keadaan luar kelas dengan teliti, “ heemm embee endak ada orang tu di luar.. palingan pa..” belum selesai Wisnu melaporkan hasil pengematan, Alwan memotong,

“ awasan meh Wis, saya mau keluar ne.., kepanasnya di dalam lama-lama..awas meh saya mau keluar aja” sahut alwan kesal sambil menarik-narik kerah bajunya.

“ Rembooo gag usah keluar di dalem aja, entar ada yang lihat..” Kataku sedikit berteriak. “eeee betook dong jangan kamu teriak makanya.. betook..betok..” Ejek Zul kepadaku. “ ee mujaer..” Ejekku balik dengan muka cemberut.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Alwan masuk dengan buru-buru dan langsung menutup pintu, “ sumpah we… pak kepsek lagi berdiri hadep sini, beneran sumpah..!!” Jelas Alwan dengan raut wajah cemas.

Seketika satu kelas yang tadinya sedang seru nonton karena sebentar lagi filmnya selesai menjadi ribut dan panic. Bebapa orang ingin memastikan pakah Alwan bohong atau tidak. Tetapi ternyata dari balik gorden itu kami melihat pak kepala sekolah tengah berdiri di depan kantornya tepat menghadap kelas yang kami tempati. Sorot mata beliau yang tajam seperti sedang menerawang sesuatu, khususnya yang berada di kelas yang kami tempati.

“ wee makanya endak usah ribut, endak usah panic.. diem! Santai aja biar dikira gag ada orang di sini.. diem..diem!!” kata Erul meyakinkan kami semua yang sedang panic.

“ iyaa anak-anak ini diem makanya, tenaang!!” Whandy menimpali

“ astaga we.. gawat pak kepsek mau jalan kesini” kata Wisnu menakut-nakuti kami yang dari tadi mengintip lewat balik gorden. Seketika suasana menjadi semakin menegangkan, temen-temen cewek sudaha tidak bisa menahan untuk berteriak dan keluar dari kelas itu.

“ denger makanya,,sekarang kita keluar pelan-pelan, gag usah rebut..ayook!!” perintah Rhandy. “ opp dulu, kalau kalian keluar sekarang dong keliatan kita jalan dari kelas ne Rhan… ” Zul menegahi. “ terus gimana???” “ ayook cepetan entar pak kepsek sampai kesiinnii..” “ wee cepetan ayook keluar”.. teman-teman mulai ribut ingin cepat-cepat keluar kelas tanpa ketahuan.

Dengan cepat aku angkat bicara, “ udah kita ngerayap aja,, kita ngesot,, ayook ga bakal di lihat sama pak kepsek.. kan ada tembok juga..ayook”. “ ya udahh cepetan wee cepetan, nunduk-nunduk.. jangan takut kotor” kata suara dari belakang mengomandoi kami. Kami pun keluar kelas dengan merayap seperti pelatihan militer yang ada di TV-TV itu loh!

“ cepetaaann!!”

“ aduuhh pelan-pelan dong, ini yang di depan hati-hati muka saya kena nih.. sakitt!”

“ nunduk makanya , jangan tengok ke atas, cepet jalan..”

“ aruaan we.. jelapan ..!!”

“ aduh baju saya jangan di tarik, jilbab saya juga.. iiieeeh”

“ udah keributnya anak ini.. lagi bentar nee cepat!!”

Dengan cepat dan saling berdesakan kami merayap menuju ke kelas, ada yang merayap, ada yang merangkak, ada yang ngesot dan masih banyak gaya bebas lainnya.

Akhirnya kami tiba juga di kelas, setelah menuruni lima buah anak tangga yang menuju kekelas kami. Dengan raut wajah tegang, seragam kotor dan berantakan kami membuang nafas lega setiba di dalam kelas. Tetapi semuanya belum berakhir. Karena tiba-tiba Erul mengejutkan kami semua, “Astaga pak kepsek datang dari koridor timur.. cepet ambil posisi duduk!“ seru Erul sambil berlari ke kursinya. Kami pun langsung mengikuti dengan cepat kembali ke tempat duduk masing-masing.

“ buka buku KWN we,,, cepat pura-pura lagi belajar, pura-pura lagi diskusi..” kata ku sedikit berbisik.

Tak lama waktu berselang, pak kepala sekolah pun masuk. Dengan raut wajah menyeramkan, berwibawa dan membuat kami bertambah tegang. Beliau berdiri di depan kelas menghadap dan berdiri tegak di depan kami. Terjadilah dialog menegangkan antara kami dan kepala sekolah.

“Apa pelajaran kalian??” tanyanya dengan suara ringan tetapi begitu membuat kami gugup untuk menjawab.

“ KWN Paaak!!” jawab kami serentak.

“ siapa guru KWN-nya???” tanyanya, dengan nada suara yang sama seperti sebelumnya.

“ Buuu EEEllyyy paaakkk!!! ” jawab kami sama kompaknya dengan jawaban sebelumnya.

“ ada tugas dari gurunya?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang semakin tajam dan tegas.

Tanpa di rencanakan, kami menjawab serempak,“ aaadddaaaa ppaaaakk!!!”

“Ya sudah kerjakan tugas kalian, jangan main-main dan jangan keluyuran keluar kelas” jelasnya

“ iiyyyaaaa ppaaak!!!!” jawab kami lagi dengan tetap serentak.

Kepsek pun akhirnya berangsur keluar meninggalkan kelas kami sambil menarik gagang pintu dan menutupnya kembali. Beliau berjalan kembali melewati kelas tempat kami terakhir nonton film tadi. Seperti ada sesuatu di kelas itu, pak kepala sekolah memutuskan untuk menghentikan langkah kakinya dan berdiri tepat di depan kelas tempat kami nonton film tadi. Sementara itu kami di kelas belum sempat bernafas lega, Rhandy tersentak sambil memukul bahu Zul sedikit keras hingga membuat seisi kelas terkejut, “ Astaga,, Zul laptop saya masih di kelas itu” seru Rhandy sambil mengarahkan telunjuknya ke arah kelas yang ada di belakang kepala sekolah.

“ Astagaa Rhan.., mati kita semua sekarang.. siep-siep dapet surat panggilan orang tua dah ne..” sahut Zul. Mendengar apa yang di katakana Zul, ketegangan kami semakain memuncak. Tanpa ada yang mengomandoi kami, kami serentak menengadahkan tangan sambil berdo’a agar pak kepala sekolah tidak masuk ke kelas itu.

Dengan perasaan deg-degan, pandangan yang tidak sedetik pun beralih dari kelas Bahasa dan pak kepsek yang masih berdiri di depannya. Kami berharap pak kepsek memutuskan untuk berjalan lagi tanpa mampir sebentar ke kelas Bahasa. Dan akhirnya, do’a kami terijabah juga. Pak kepsek kembali berjalan di sepanjang koridor dan turun dari lantai atas sampai akhirnya tubuhnya pun lenyap dari pandangan kami.

“ Alhamdulillah..!!” serentak kami mengucap syukur.

“ udah meh biar saya yang ambilin laptopmu Rhan..” kata Zul. Rhandy hanya mengangguk sambil membukakan pintu kelas.

Kembalinya Zul dari kelas Bahasa dengan raut wajah seperti habis memenangkan sesuatu. “ selamet..selamet.. untung aja filmnya udah abis baru pak kepsek datang.. ne Rhan laptop mu” kata Zul sambil menyerahkan laptop yang di jinjingnya ke pemiliknya, Rhandy.

“ seeruu asli seru tadi tu ya,, nonton film lagi ayook.. he” Alwan nyengir-nyengir sendiri sambil memperbaiki rambutnya di kaca pintu kelas.

“ ngawakk aja rembo ini, ini aja udah leger kita.. ” sahutku kesal.

“ siapa tahu nanti kita gag akan seberuntung ini.. ” jelas Yusrina

Dengan gaya sedikit gemulai, Zul berdiri di samping jendela, “ heeemmm besok kita ngapain lagi yaa..hemmm”

Melihat gaya bicaranya, kedengaranya mirip seperti tokoh kartun Shinchan. Itu membuat kami semua tertawa lepas menikmati sisa-sisa ketegangan kami yang berangsur-angsur hilang.

Itu lah salah satu kisah ku dan teman-teman ku di masa putih abu-abu dulu. Memang mungkin sebagian besar orang berpikir itu kisah yang lucu da tidak bail untuk ditiru. Anda benar kawan!! Menurutku kisah itu memeang lucu dan kalian yang masih duduk di bangku putih abu-abu, jangan coba-coba meniru adegan ini yaa!! Bahaya! Bisa jadi kalian tidak seberuntung kami waktu itu.

IPA 1 in Moment…..

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s