TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA

  1. Pengertian Tugas Perkembangan Remaja

Secara umum tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya mengurangi atau bila mungkin menghilangkan sama sekali sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk menepati kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja, menurut Hurlock dalam Mappiare (1992) adalah berusaha agar:

1. Mampu menerima keadaan fisiknya.

Pada periode pra-remaja, anak tumbuh demikian cepat yang mengarah pada bentuk orang dewasa, diiringi perkembangan sikap dan citra diri. Remaja diharapkan dapat menerima keadaan diri sebagaimana adanya keadaan diri mereka sendiri, bukan khayalan dan impian.

2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa

Dalam masa remaja diharapkan mereka menerima keadaan diri sebagai pria atau wanita dengan sifat dan tanggung jawab kaumnya masing-masing. Sering kali terjadi ada remaja yang menyesali diri sebagai pria atau wanita, terutama jika bentuk tubuh mereka tidak memuaskan.

3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.

Akibat adanya kematangan seksual yang dicapai sejak awal masa remaja, para remaja mengadakan hubungan sosial terutama hubungan dengan lawan jenis merupakan suatu kewajaran. Dalam hal ini, seorang remaja haruslah mendapat penerimaan dari kelompok teman sebaya lawan jenis atau sesama jenis agar memperoleh rasa dibutuhkan dan rasa berharga.

4. Mencapai kemandirian emosional.

Tugas perkembangan yang harus dihadapi remaja adalah bebas dari ketergantungan emosional seperti dalam masa kanak-kanak mereka. Dalam masa remaja, seseorang dituntut untuk tidak lagi mengalami perasaan bergantung semacam itu.

  1. Mencapai kemandirian ekonomi.

Kesanggupan berdiri sendiri dalam hal yang berhubungan dengan ekonomi merupakan tugas perkembangan remaja yang penting, karena mereka akan hidup sebagai orang dewasa kelak.

6. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.

Sebagai hasil dari perpaduan unsur-unsur pertumbuhan biologis dan keragaman pengalaman dengan lingkungan, remaja dapat mengembangkan kemampuan mentalnya. Remaja sudah memiliki kemampuan untuk berfikir atau nalar tentang sesuatu yang berada di luar pengalamannya atau sistem nilai yang dimilikinya. Dengan kata lain , remaja sudah dapat memikirkan kemungkinan sesuatu yang abstrak secara sistematis untuk memecahkan suatu persoalan atau masalah.

7. Memahami dan menginternalisasi nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.

8. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.

Proses pengikatan individu kepada kelompok sosialnya telah berkembang sejak lahir. Proses ini diperluas selama masa anak dan remaja. Remaja yang mengikuti kegiatan keagamaan akan dapat mengembangkan sikap batin atau sikap keterikatan sosialnya terhadap orang lain.

9. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

Sikap remaja terhadap pernikahan ternyata beragam, sebagian remaja bersifat antagonistik (menentang dan merasa takut) dan sebagian lainnya menerimanya dengan sikap positif.

10. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

Tugas-tugas fase perkembangan remaja ini amat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan, diperlukan kemampuan kreatif remaja yang diwarnai oleh perkembangan kognitifnya.

  1. Klasifikasi Tugas Perkembangan Remaja

Tugas-tugas perkembangan remaja terdiri dari 3 bagian yaitu, tugas perkembangan remaja berkenaan dengan kehidupan pribadi sebagai individu, pendidikan dan karier, serta dalam kehidupan berkeluarga kelak. Berikut ini merupakan uraian dari masing-masing bagian tersebut beserta karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

  1. 1.      Perkembangan Kehidupan pribadi sebagai individu

Kehidupan pribadi sangat rumit dan kompleks sehingga sulit untuk dirumuskan. Sebagai makhluk individu, seseorang menyadari bahwa dalam kehidupannya memiliki kebutuhan yang diperuntukkan bagi kepentingan diri secara pribadi, baik fisik maupun nonfisik. Dalam pertumbuhan fisiknya, manusia memerlukan kekuatan dan daya tahan tubuh serta perlindungan keamanan fisiknya. Kondisi;i fisik amat penting dalam perkembangan dan pembentukan pribadi seoseorang.

Kehidupan pribadi seorang individu merupakan kehidupan yang utuh dan lengkap dan memiliki ciri khusus dan unik. Kehidupan pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek, antara lain aspek emosional, sosial psikologis dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual.

  • Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan aspek tersebut adalah kehidupan keluarga beserta berbagai aspeknya, yang meliputi:
    • Status sosial ekonomi.
    • Filsafat hidup keluarga.
    • Pola hidup keluarga seperti kedisiplinan,kepedulian terhadap kesehatan,dan ketertiban termasuk ketertiban menjalankan menjalankan ajaran agama.

Selain itu faktor lain yang berpengaruh yaitu faktor keturunan dan lingkungan yang sesuai dengan aliran nativisme, empirisme, dan konvergensi.

  • Aliran nativisme menyatakan bahwa perkembangan seorang individu ditentukan oleh kemampuan dan sifat yang dibawa sejak dilahirkan.
  • Aliran empirisme menyatakan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh lingkungan tempat ia berkembang, jadi bisa dikatakan seorang individu akan berkembang sesuai dengan kehendak lingkungan.
  • Aliran konvergensi menyatakan bahwa perkembangan seorang individu dipengaruhi oleh kemampuan dan sifat yang dibawa sejak lahir dan lingkungan tempat ia dibesarkan, dengan kata lain aliran ini merupakan penggabungan antara aliran nativisme dan aliran empirisme

Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pribadi terhadap Tingkah Laku yaitu jika sejak awal perkembangan kehidupan pribadi terbentuk secara terpadu dan harmonis, maka dapat diharapkan tingkah laku yang merupakan pengejawantahan berbagai aspek pribadi itu akan baik.

  • Upaya Perkembangan Kehidupan Pribadi:
    • Hidup sehat dan teratur serta pemanfaatan waktu secara baik.
    • Mengerjakan tugas dan pekerjaan praktis sehari-hari secara mandiri dengan penuh tanggung jawab.
    • Hidup bermasyarakat dengan melakukan pergaulan dengan sesama, terutama dengan teman sebaya.
    • Mengikuti aturan kehidupan keluarga dengan penuh tanggung jaeab dan disiplin.
    • Melakukan peran dan tanggung jawab dalam kehidupan keluarga.
  1. 2.      Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier

Pada hakikatnya manusia selalu ingin tahu, maka atas dasar hakikat tersebut manusia senantiasa belajar untuk mencari tahu hal-hal yang ada di sekitarnya. Banyak bangsa yang mengikuti prinsip pendidikan seumur hidup, yang artinya adalah manusia itu senantiasa belajar sepanjang hayatnya.Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik melalui badan pendidikan formal maupun nonformal.

Berkaitan dengan perkembangan peserta didik, kehidupan pendidikan yang dimaksud adalah sesuatu yang dialami oleh remaja sebagai peserta didik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan kehidupan masyarakat. Sedangkan kehidupan karier merupakan pengalaman seseorang dalam dunia kerja. Seperti dikatakan oleh Garrison (1956), bahwa setiap tahun terdapat jutaan pemuda dan pemudi memasuki dunia kerja di seluruh dunia. Peristiwa seseorang rernaja masuk ke dunia kerja itu merupakan awal pengalaman dalam kehidupan berkarya (berkarier). Pada hakikatnya kehidupan remaja dalam pen­didikan merupakan awal kehidupan kariernya.Cita-cita tentang jenis pekerjaan di masa yang akan datang merupakan faktor penting dan merupakan langkah awal dalam kehidupan pendidikan dan kariernya.

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pendidikan dan karier adalah:

1. Faktor sosial-ekonomi, kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua dan kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya

2. Faktor lingkungan, terdiri atas 3 hal:

Lingkungan kehidupan masyarakat, hal ini akan membentuk sikap anak dalam menentukan pola kehidupan dan mempengaruhi pola pikirnya tentang pendidikan dan kariernya

Lingkungan kehidupan sekolah, kondisi sekolah merupakan lingkungan yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan dan karier remaja

Lingkungan teman sebaya, pergaulan teman sebaya akan berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan pendidikan masing-masing remaja

  1. Faktor pandangan hidup, merupakan bagian yang terbentuk karena lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari cara menyatakan cita-cita hidupnya.
  • Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier terhadap Tingkah Laku dan Sikap
  • Pada jenjang pendidikan dasar yang kurikulumnya masih sangat umum, sekolah tersebut menyediakan pelajaran dasar yang belum bermakna sebagai pembekalan anak-anak untuk siap bekerja dan belum terarah kepemberian keterampilan tertentu untuk terjun ke dunia kerja di dalam masyarakat
  • Banyak pandangan yang menyatakan bahwa sekolah itu kurang membawa manfaat bagi hidupnya, mereka (golongan yang sosial ekonominya lemah) memandang bahwa sekolah tidak dapat memberikan pekerjaan baginya.

Perkembangan karier ramaja yang menurut Ginxberg ada pada periode pilihan tentative ( 11-17 tahun) ini ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah dalam memutuskan pekerjaan  apa yang akan dikerjakan dimasa mendatang. Periode tentative ini meliputi 4 tahapan yaitu:

  • Tahap minat (umur 11-12 tahun)\

Remaja sudah mulai mempunyai rencana dan memungkinkan pilihan karier yang didasarkan pada minat. Anak belajar tentang apa yang ia suka lakukandan anak melakukan pilihan atas dasar factor-faktor subjektif belum didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan objektif.

  • Tahap kapasitas (12-14)

Remaja mulai menggunakan ketampilan dan kempuan pribadinya sebagai pertimbangan dalam melakukan pilihan dan rencana karier. Remaja mulai menilai kempuannya berperan baik dalam bidang-bidang pendidikan dan pekerjaan yang diminati.

  • Tahap nilai(15-16)

Dalam tahap ini reaja telah menganggap penting peranan nilai-nilai pribadi dalam poses pilihan karier. Anak mulai melihat apa sesungguhnya yang penting bagi dirinya,tahu perbedaab konsepsi tentang berbagai gaya hidup yang disiapkan oleh pekerjaan,kesadaran tentang pentingnya waktu mlai berkembang dan menjadi lebih sensitive terhadap perlunya pekerjaan.

  • Tahap transisi (17-18)

Dalam tahap transisi ini  remaja bergerak dari pertimbangan-pertimbangan realistis yang masih berada di pinggir kesadaran kedalam posisi yang lebih sentral. Pada  tahap ini anak mulai menghadapi perlunya membuat keputusan dengan segera,konkret,dan realistis tentang pekerjaan yang akan datang atau pendidikan yang mempersiapkannya ke suatu pekerjaan nati.

  1. 3.      Perkembangan Kehidupan Keluarga

Tugas perkembangan remaja dalam hubungannya dengan persiapan mereka untuk memasuki kehidupan baru, yaitu kehidupan berkeluarga. Pada pembahasan sebelumnya telah diuraikan bahwa secara biologis pertumbuhan remaja telah mencapai kematangan seksual dan telah siap melakukan fungsi produksi. Kematangan fungsi seksual tersebut berpengaruh terhadap dorongan seksual remaja dan mulai tertarik kepada lawan jenis. Garrison (1956) menyatakan bahwa dorongan seksual pada masa remaja cukup kuat, sehingga perlu dipersiapkan secara mantap tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan, karena masalah tersebut mendasari pemikiran mereka untuk mulai menetapkan pasangan hidupnya.

Berkenaan dengan upaya untuk menetapkan pilihan pasangan hidup, perkembangan sosial psikologis remaja ditandai dengan upaya menarik lawan jenis dengan berbagai cara yang ditunjukkan dalam bentuk perilaku. Dalam situasi pergaulan yang khusus atau ber­kencan, seorang gadis hendaknya bersikap pasif dan perjaka yang lebih bersikap aktif. Hampir setiap remaja mempunyai dua tujuan utama, pertama menemukan jenis pekerjaan yang sesuai, kedua menikah dan membangun sebuah rumah tangga (keluarga). Hal ini tidak selalu harus muncul dalam aturan tertentu, tetapi perlu diketahui bahwa seorang remaja akan mengalami “jatuh cinta” di dalam kehidupannya setelah mencapai usia belasan tahun (Garrison, 1956: 48).

Alasan atau faktor yang seseorang mengalami jatuh cinta bermacam-macam, antara lain adalah faktor kepribadian, faktor fisik, faktor budaya, latar belakang keluarga, dan faktor kemampuan.

Secord dan Backman (1974) menyatakan bahwa menciptakan hubungan yang intim, dicapai melalui tiga tahap, yaitu tahap eksplorasi yaitu menjajahi masalah-masalah yang berhubungan dengan  pujianatau penghargaan dan keuangan , tahap panawaran di mana pasangan itu menjalin berbagai janji atau saling pengertian tentang latarbelakang hubungan mereka, dan tahap komitmen yang ditandai dengan saling ketergantungan masing-masing dan tahap ke empat yang ditambahkan adalah tahap institusionalisasi yang ditandai dengan kesepakatan-kesepakatan untuk hidup masa depan.

Burgess dan Huston mengidentifikasi perubahan-perubahan perilaku remaja dalam melakukan pergaulan dengan lawan jenis, di antaranya:

1.     mereka lebih sering berhubungan dalam periode waktu agak lama.

2.     mereka mencapai pendekatan bila perpisahan dan merasa peningkatan hubungan bila berhubungan bila ketemu kembali.

3.     mereka terbuka satu sama lain tentang perasaan yang mereka rahasiakan dan secara fisik menunjukkan keakraban.

4.    .mereka menjadi lebih terbiasa dan saling berbagi perasaan suka dan duka.

5.     mereka mengembangkan system komunikasi mereka sendidri dan komunikasi itu meningkat lebih efisien.

  1. 4.      Masyarakat dan Perkawinan

Perkawinan antara pria dan wanita bukan saja masalah yang didorong oleh faktor biologis, melainkan diatur oleh berbagai aturan atau norma yang berlaku di dalam kehidupan social kemasyarakatan.Di samping faktor fisik (biologis) dan psikologis, faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan calon pasangan hidup adalah kesamaan-kesamaan dalam hal ras, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi.

  1. C.    Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Remaja dalam Penyelenggaraan Pendidikan

a.      Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang diselenggarakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, pada umumnya diselenggarakan dalam bentuk klasikal.

b.      Beberapa usaha yang perlu dilakukan di dalam penyelenggaraan pendidikan, sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita kehidupannya antara lain:

1.     bimbingan karier.

2.     memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan berorientasi terhadap kondisi (tuntutan) lingkungan.

3.     penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum muatan lokal.

c.     Keberhasilan dalam memilih pasangan, hidup untuk membentuk keluarga benyak ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk mengembangkan model keluarga yang ideal maka perlu dilakukan bimbingan dan  etika  pergaulan, dan bimbingan siswa untuk memahami norma kehidupan masyarakat.

d.      Pendidikan tentang nilai kehidupan untuk mengenalkan norma kehidupan sosial masyarakat perlu dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s