SHORT STORY

AKU BELUM SIAP BERJILBAB

Namaku Maya, ini kisahku bersama seorang sahabat terbaikku  Maira namanya. Kami baru tiga tahun bersama, tapi aku sudah menganggap dia bukan sahabat terbaik lagi tetapi aku kini menganggapnya sudah seperti saudara terbaikku. Aku dan Maira dekat karena kami sekolah di SMA yang sama dan kebetulan kami tinggal di kos-kosan yang sama. Aku dan Maira memiliki karakter yang menurut teman-teman kami bagaikan bawang merah dan bawang putih. Kata teman-teman disekolah aku orangnya cerewet, centil, cantik, pintar dan keras kepala. Sedangkan Maira, dia lembut, sangat baik kepada siapa saja, solehah, cantik dan pintar. Itu menurutku dan teman-temanku. Jadi di sini sudah sangat jelas siapa yang jadi bawang merah dan siapa yang jadi bawang putih. Tetapi jika kalian bertemu langsung denganku dan Maira, kalian akan tahu bedanya. Karana diantara kami berdua hanya Maira lah yang memakai jilbab.

Tidak ada hari tanpa nasehat-nasehat Maira untukku. Maira adalah penenang hatiku, saat hatiku sedang galau entah karena urusan keluarga atau pacar, Maira selalu ada untukku. Dulu sebelum memgenalnya, aku, Maya, gadis yang tidak tahu aturan, berpakaian tidak sopan, suka membangkang, dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku ungkapkan. Tapi itu dulu karena kini, aku, Maya, gadis baik, pintar walaupun sedikit cerewet dan centil itu karena kebiasaan lamaku yang masih belum bisa ku hilangkan. Aku berubah karena Maira didekatku, Annisa El-Humairra, karena keharuman hatinya aku menjadi kecipratan wanginya. Tetapi masih ada satu hal yang selalu Maira tanyakan padaku kenapa aku tidak melakukannya dan aku hanya menjawab “aku belum siap Maira..” hal itu adalah BERJILBAB.

Seperti biasa setiap hari minggu aku dan Maira pergi ke Perpustakan Daerah untuk membuka jendela dunia. Karena kos-kosan kami yang tidak jauh dari sana, kami lebih memilih untuk berjalan kaki.

“Maira.. aku boleh nanya’ enggak??” sambil bergandengan tangan aku memulai percakapan.

“soal apa? insyaAllah kalo aku bisa jawab ya.. aku jawab..” katanya sambil memandangku.

“kenapa sampai sekarang kalo aku nanya’ kapan kamu mau pacaran, kamu selalu bilang kalo kamu enggak mau pacaran?? Kenapa??” tanyaku sambil berjalan mundur di depannya. Tetapi Maira hanya tersenyum sambil menggenggam erat tanganku.

“ dan kamu Maya kenapa kamu belum mau berjilbab?? Hem kenapa??” Maira balik bertanya dengan suara seperti menahan tertawanya.

“ kok balik nanya sih.. Miara kan aku udah sering bilang kalau aku itu belum siap..!!” jawabku.

“lalu kapan kamu siap??”tanyanya lagi.

“besok saat lulus SMA aku bakalan pake jilbab deh..” jawabku mencoba membuatnya tidak bertanya lagi.

“Emangnya kamu yakin besok pas lulus SMA kamu sudah siap untuk berjilbab??” Maira justru bertanya lagi kepadaku.

“Ya belum sih.. tapi kalo lulus SMA besok aku belum siap berjilbab juga.. ya aku bakal nunggu sampai siap. Yang jelas, aku pasti bakalan berjilab deh tenang aja Maira..” jelasku

“Sekarang aku tanya lagi deh Maya sama kamu,.. Allah SWT. apakah Dia bertanya dulu kepada umatnya kalau apakah kita sudah siap untuk dicabut nyawanya?? apakah Allah bertanya dulu seperti itu??” nada bicara Maira lembut tetapi terdengar tidak seperti biasanya bagiku.

“kok kamu ngomong gito Ra, tumben biasanya kamu enggak pernah nanyak sampai sejauh itu sama aku??” aku heran dengan Maira, karena biasanya setelah aku berkata kalau aku belum siap berjilbab, dia hanya berkata kalau kita tidak akan tahu kapan kita siap dan setelah itu kita ganti topic pembicaraan. Tapi sekarang Maira berbeda, apa dia marah padaku?

“iya karena selama ini aku udah buat kesalahan, aku enggak ngasi tau kamu apa yang seharusnya kamu ketahui Maya..” jelasnya

“ maksud kamu??” aku belum paham dengan maksud Maira tetapi hatiku mulai tidak nyaman dengan sikapnya.

“ Maya, aku tahu kalau seorang muslimah harus menggunakan jilbab setelah dia baligh…” belum selesai Maira menjelaskan aku memotongnya dengan nada sedikit tinggi..

“ Aku juga tau itu Maira, kamu udah sering banget ngejelasin itu sama aku, tapi aku kan udah bilang kalau aku belum siap..” potongku

“ Maya tolong dengarkan aku kali ini..! kamu udah 19 tahun, kamu seorang muslimah sudah  seharusnya kamu mengenakan jilbab. Kalau kamu menuggu dirimu siap untuk berjilbab sampai kapan? Apa kamu tahu kapan kamu siap?? Enggag kan!!” jelas Maira . kali ini Maira benar-benar berbeda. Nada suaranya kepadaku tidak selembut biasanya dan itu membuat ku bungkam tanpa memotong pembicaraannya lagi.

“ Apakah Allah bertanya dulu kepada kita kapan kita siap untuk sedih, kapan kita siap untuk bahagia dan kapan kita siap untuk mati sekalipun?? Allah tidak pernah bertanya bahkan menunggu sampai kita siap untuk itu semua Maya..!!” jelas Maira yang membuat ku tersentak seperti ada sesuatu mengenai hatiku. Sudah kukatakan bahwa kali ini Maira begitu berbeda.

“ aku merasa kamu begitu berbeda sekarang Maira, entah karena kamu marah pada ku aku tidak tahu..” ungkapku

“ Aku tidak pernah marah padamu Maya, aku marah pada diriku sendiri. Kenapa tidak dari dulu aku berkata seperti ini padamu. Kamu teman dekatku Maya jadi sudah kewajibanku memberikan yang terbaik untukmu.. maafkan aku” Maira  meraih tanganku sambil menitikkan air mata dan aku tahu pasti bahwa saat ini Maira sangat sedih.

“ Maira lalu kapan aku siap untuk melakukannya??” kataku sambil menggenggam tangannya erat.

“ kita akan tahu kalau kita sudah siap saat kita melakukannya Maya!! ”

“ misalnya nanti aku sudah berjilbab, kau dan aku tahu berjilbab itu juga termasuk ibadah tetapi jika aku belum ikhlas melakukannya apakah semua itu ada artinya di hadapan Allah Maira??”

“ Maya siap sama halnya dengan ikhlas, jangan ditunggu. Jadi, jika kita ingin melakukan hal baik niatkan karena Allah, insyaAllah kesiapan dan keikhlasan akan datang dengan sendirinya..” jelas Maira. Seketika akupun langsung memeluknya erat.

“ Maira kau tau, aku begitu beruntung memiliki sahabat sepertimu.. aku begitu beruntung Maira” isak ku sambil memeluknya.

“ Alhamdulillah Maya.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah…” bisik Maira dengan lembut ditelingaku. Inilah Maira sahabatku.

Sejak saat itu, Maira tidak pernah lagi bertanya kepadaku tentang kapan aku siap untuk berjilbab. Karena saat ini kepala dan dadaku sudah tertutup oleh kain jilbab yang insyaAllah aku ikhlas melakukanya karena Allah. Kini aku sadar bahwa bukan kesiapan yang kita tunggu, tetapi kesiapan itulah yang menunggu kita. Aku Maya Maharani kini telah berjilbab. Aku tidak lagi mnunggu kapan aku siap tetapi aku yang menjemput kesiapanku. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s