PERKEMBANGAN NILAI, MORAL DAN SIKAP

BAB I. Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Selain aspek kognitif dan psikomotorik, aspek afektif juga sangat penting dalam menentukan hasil pembelajaran. Tipe hasil belajar afektif tampak pada sisiwa dalam berbagai bnetuk tingkah laku, seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial.hasil belajar ranah afektif sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai, moral dan sikap dari masing-masing siswa yang bersangkutan (Jufri, 2010 :71-72).

Pemahaman guru tentang perkembangan aspek afektif siswa merupakan hal yang sangat penting untuk keberhasilan belajarnya, aspek afektif tersebut dapat terlihat selama pembelajaran terutama ketika siswa bekerja kelompok. Oleh karena itu, selama pembelajaran  ( termasuk saat siswa kerja kelompok) guru senantiasa terus memantau dan mengamati aktivitas siswanya.

Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang yang berlaku di dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun ( Sutikna,1998:5). Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya ( Purwadarminto,1957:957). Dengan kata lain bahwa moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan perbuatan yang benar dan yang salah sebagai alat kendali dalam bertingkah laku. Moral sering dianggap sebagai prinsip dan patokan yang berhubungan dengan benar dan salah oleh masyarakat tertentu, dapat pula diartikan sebagai perilaku yang sesuai dengan norma benar atau salah tersebut. Disamping nilai dan moral ada juga sikap, yang menurut Gerung sikap secara umum diartikan sebagai kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal ( Mappiare,1982:58). Sikap merupakan motif yang mendasari tingkah laku seseorang.

Antara nilai, moral dan sikap serta tingkah laku memiliki keterkaitan yang tampak dalam penerapan atau pengalaman nilai-nilai tersebut. Dimana nilai-nilai perlu dikenal terlebih dahulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud.

Setiap individu memiliki tingkat perkembangan nilai, moral dan sikap yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa factor yang secara umum dipengaruhi oleh factor lingkungan dan factor usia. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dalam makalah kami yang akan membahas tentang factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai, sikap dan moral, perbedaan individu dalam perkembangan nilai,moral dan sikap serta upaya mengembangkan nilai,moral dan sikap remaja serta implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan.

  1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

  1. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan  nilai,moral dan sikap?
  2. Bagaimana perbedaan individu dalam perkembangan nilai,moral dan sikap?
  3. Apakah upaya-upaya yang dapat dilakukan terhadap pengembangan nilai, moral, dan sikap remaja dalam penyelenggaraan pendidikan?

BAB II. Pembahasan

A.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral dan Sikap

Secara umum factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu di bagi menjadi dua, yaitu:

  1. Faktor internal (endogen), yaitu factor yang berasal dari dalam diri individu seperti komponen hereditas (keturunan), dan konstitusi.
  2. Factor eksternal (eksogen), yaitu faktoe yang berasl dari luar individu, seperti lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan geografis.

Namun dalam hubungannya dengan perkembangan nilai, moral dan sikap, factor yang paling berpengaruh adalah factor yang berasal dari luar individu (factor eksternal). Perkembangan moral seseorang banyak dipengaruhi oleh lingkungan dimana orang tersebut hidup. Karena tanpa masyarakat (lingkungan), kepribadian seseorang tidak akan berkembang. Lingkungan disini dapat berarti keluarga (orang tua), sekolah, teman-teman dan masyarakat.

Suatu lingkungan yang paling awal berusaha menumbuh kembangkan system nilai,moral dan sikap kepada seorang anak adalah lingkungan keluarga. setiap orang tua tentu sangat berharap anaknya tumbuh dan berkembang menjadi sorang individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Pada intinya orang tua atau lingkungan keluarga tentu sangat ingin anak atau anggota keluarganya memiliki sikap yang terpuji yang sesuai dengan harapan orang tua, masyarakat dan agama.

Melalui proses pendidikan, pengasuhan, perintah, larangan, hadiah, hukuman dan intervensi pendidikan lainnya, para orangtua berusaha menanamkan nilai-nilai luhur, moral dan sikap yang baik bagi anak-anaknya agar dapat menjadi individu sesuai dengan yang diharapkan. Keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan  dan didalamnya anak mendapatkan pendidikan yang pertama kali.

Bagi para ahli psikoanalisis perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan kematangan dari sudut organic biologis. Menurut psikoanalisis moral dan nilai menyatu dalam konsep superego. Superego dibentuk melalui jalan internalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari luar khususnya dari orang tua yang sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar dari dalam diri sendiri. Karena itu, orang-orang yang tak mempunyai hubungan harmonis dengan orangtuanya dimasa kecil, kemungkinan besar tidak mampu mengembangkan superego yang cukup kuat, sehingga mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat.

Lingkungan pendidikan setelah keluarga adalah lingkungan sekolah. Sekolah sebagai lembaga formal yang diserahi tugas untuk menyelenggarakan pendidikan pendidikan tentunya memiliki peranan besar dalam membantu perkembangan hubungan sosial remaja yang mencakup nilai, moral dan sikap. Dalam hal ini, guru juga hrus mampu mengembangkan proses pendidikan yang bersifat demokratis. Dimana guru harus mampu mengembangkan pran-perannya selain sebagai gurujuga sebagai pemimpin yang demokratis. Berbeda dengan dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah ada kurikulum sebagai rencana pendidikan dan pembelajaran, ada guru professional, ada sarana dan prasarana dan fasilitas pendidikan sebagai pendukung proses.

Dilingkungan sekolah guru tidak hanya semata-mata mengajar melainkan juga mendidik. Artinya selain menyampaikan pelajaran sebagai upaya transfer pengetahuan kepada peserta didik, juga harus membina peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. Untuk itu disamping mengajar guru harus menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik melalui pendidikan karakter agar memiliki moral yang baik.

Perkembangan moral menurut Durkheim (dalam Djuretna,1994) berkembang karena hidup dalam masyarakat dan moral pun dapat berubah karena kondisi sosial.oleh karena itu, moral masyarakat berkuasa terhadap perkembangan moral individu.

Teori-teori lain yang non-psikoanalisis beranggapan bahwa hubungan anak-orangtua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sosiolog beranggapan bahwa masyrakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya control dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggar-pelanggarnya (Sarlito,1992:92). Didalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu ternyata factor linkungan memegang peranan penting. Makin jelas sikap dan sifat lingkungan terhadap nilai hidup tertentu dan moral makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk atau meniadakan tingkah laku yang sesuai.

B.     Perbedaan Individu dalam Perkembangan Nilai, Moral dan Sikap

Perbedaan individu dalam perkembangan nilai,moral dan sikap dipengaruhi oleh tiga hal pokok, antara lain:

  1. Fase ( tahap)

Menurut Kohlberg ada enam tahap dalam perkembangan moral yang berlaku secara universal dan dalam urutan tertentu. Ada tiga tingkat perkembangan menurut Kohlberg, antara lain:

I.                   Prakonvensional

II.                Konvensional

III.             Pasca-konvensional

Dimana masing-masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga totalnya menjadi enam tahap ( stadium) yang berkembang secara bertingkat dan dalam urutan yang tetap. Namun, tidak semua individu mencapai tahap terakhir perkembngan moral. Dalam stadium nol, anak menganggap baik apa yang sesuai dengan permintaan dan keinginannya. Sesudah stadium ini datanglah:

Tingkat I : Prakonvensional, yang terdiri dari tahap 1 dan 2

Pada tahap 1, anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman. Anak menganggap baik dan buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Ia harus menurut atau kalau tidak akan memperoleh hukuman.

Pada tahap 2, berlaku prinsip Relativistik-Hedonism. Pada tahap ini anak tidak lagi secara mutlak tergantung pada aturan yang berada diluar dirinya, atau aturan yang ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi. Jadi ada Relativisme yang artinya bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan seseorang ( hedonoistik).

Tingkat II: Konvensional

Tahap 3, menyangkut orientasi mengenai anak yang baik. Pada tahap ini anak mencapai unsure belasan tahun, dimana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baiknya perbuatan itu oleh orang lain.disini, masyarakat adalah sumber yang menentukan, apakah perbuatan seseorang itu baik atau tidak.

Tahap 4, yaitu tahap yang mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Pada tahap ini perbuatan baik yang diperlihatkan orang bukan hanya agar dspst diterima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkann bertujuan agar  ikut mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma sosial. Jadi perbuatan baik adalah berkewajiban untuk ikut melaksanaklan aturan-atiran yang berlaku dengan baik agar tidak menimbulkan kekacauan.

Tingkat III : Pasca-Konvensional

Tahap 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Pada tahp ini adanya hubungan timbale balik antara dirinya dengan lingkungan sosial, yaitu dengan masyarakat. Dalam hal ini, seseorang harus memperlihatkan kewajibannya, dimana ia harus berbuat sesuai dengan norma-norma sosial karena sebaliknya, lingkungan sosial atau masyarakat akan menghormati dan menghargai serta memberikan perlindungan kepadanya.

Tahap 6, tahap ini disebut Prinsip Universal. Pada tahap ini ada norma etik di samping norma pribadi dan subjektif. Dalam perjanjian antara seseorang dengan masyarakatnya ada unsur-unsur subjektif yang menilai apakah perbuatan itu baik atau tidak. Subjektivisme disini maksudnya ada perbedaan penilaian antara seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini usur etika yang akan menentukan apakah yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya.

2. Tempo ( waktu)

Waktu disini sangat erat kaitannya dengan usia. Dimana setiap individu akan memiliki tingkat perkembangan nilai, moral dan sikap yang berbeda pada usia yang berbeda-beda pula.

Pengertian moral dianak usias epuluh tahun tentu berbeda dengan anak-anak yang lebih tua. Karena pada anak-anak terdapat anggapan bahwa aturan-aturan adalah pasti dan mutlak oleh karena diberikan oleh orang dewasa atau Tuhan yang tidak biasa di ubah lagi ( Kohlberg,1963). Pengertian mengenai aspek moral pada anak-anak lebih besar, lebih lentur dan nisbi. Ia bisa menawar atau mengubah suatu aturan kalau di setujui oleh semua orang.

Berbeda dengan sebagian remaja serta orang dewasa yang penalarannya terhambat atau kurang berkembang, tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvensional. Pada tahap ini seseorang belum mengenal apalagi menerima aturan dan harapan masyarakat. Pada tingkatan yang paling awal, pedoman mereka hanyalah menghindari hukuman.

Menurut Kohlberg, factor kebudayaan mempengaruhi perkembangan moral, terdapat berbagai rangsangan yang diterima oleh anka-anak dan ini mempengaruhi perkembangan moral. Bukan saja mengenai cepat atau lambatnya tahap-tahap perkembangan yang dicapai, melainkan juga mengenai batas tahap-tahap yang ingin dicapai. Perbedaan perseorangan juga dapat dilihat pada latar belakang kebudayaan tertentu.

C.    Upaya Mengembangkan Nilai, Moral dan Sikap Remaja serta Implikasinyadalam Penyelenggaraan Pendidika

Tahap-tahap perkembangan moral pada remaja telah mencapai pada tahap moralitas hasil interaksi seimbang yaitu secara bertahap anak mengadakan internalisasi nilai moral dari orangtuanya dan orang-orang dewasa di sekitarnya. Pada akhir masa remaja terdapat lima perubahan yang dapat dilukiskan sebagai berikut:

  1. Pandangan moral remaja mulai menjadi abstrak, menifestasi dari ciri ini adalah prilaku remaja yang suka saling bernasihat sesama teman dan kesukaannya pada kata-kata mutiara.
  2. Pandangan moral remaja sering terpusat pada apa yang benar dan apa yang salah. Sehingga remaja sangat antusias pada usaha-usaha reformasi sosial.
  3. Penilaian moral pada remaja semakin mendasarkan diri pada pertimbangan kognitif, yang mendorong remaja mulai menganalisis etika sosial dan mengambil keputusan kritis terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
  4. Penilaian moral yang dilakukan remaja menunjukkan perubahan yang bergerak dari sifat egosentris menjadi sosiosentris, sehingga remaja senang sekali bila dilibatkan dalam kegiatan memperjuangkan nasib sesama, kesetiakawanan kelompok yang kadang-kadang untuk ini remaja bersedia berkorban fisik.
  5. Penilaian moral secara psikis juga berkembang menjadi lebih mendealam yang dapat merupakan sumber emosi dan menimbulkan ketegangan-ketegangan psikologis. Sehingga pada akhir masa remaja moral yang dianutnya diharapkan menjadi kenyataan hidup dan menjadi barang berharga dalam hidupnya.

Apa yang terjadi dalam diri pribadi seseorang hanya dapat didekati melalui cara-cara tidak langsung, yakni dengan mempelajari gejala dan tingkah laku seseorang tersebut, maupun membandingkannya dengan gejala sertra tingkah laku orang lain. Diantara proses kejiwaan yang sulit untuk dipahami adalah proses terjadinya dan terjelmanya nilai-nilai hidup dalam diri individu, yang mungkin didahului oleh pengenalan nilai secara intelektual,disusul oleh penhayatan nilai tersebut, dan kemudian tumbuh didalam diri seseorang sedemikian rupa kuatnya sehingga seluruh jalan pikiran, tingkah lakunya serta sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya, bukan saja diwarnai tetapi juga dijiwai oleh nilai tersebut

Karena itu, ada kemungkinan bahwa ada individu yang tahu tentang sesuatu nilai tetap menjadi pengetahuan. Tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral seperti yang diharapkan, maka kita dihadapkan dengan masalah pembinaan. Adapun upaya-upaya yang dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral dan sikap remaja adalah:

a.      Menciptakan Komunikasi

Dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang nilai-nilai dan moral. Anak tidak pasif mendengarkan dari orang dewasa bagaimana seseorang harus bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai-nilai moral, tetapi anak-anak harus dirangsang supaya lebih aktif. Hendaknya ada upaya  yang mengikutsertakan remaja dalam pembicaraan dan dalam pengambilan keputusan keluarga. Sedangkan  dalam kelompok sebaya, remaja turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok.

Disekolah para remaja hendaknya diberi kesempatan berpartisipasi untuk mengembangkan aspek moral, misalnya dalam kerja kelompok,sehingga dia belajar untuk tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan orang lain karena hal ini tidak sesuai dengan nilai atau norma moral.

             b.      Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi

Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu dan moral, kemudian berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup tersebut umunya adalah seseorang yang hidup dalam lingkungan yang secara positif, jujur, dan konsekuen yang senantiasa mendukung bentuk tingkah laku yang merupakan pencerminan nilai hidup tersebut. Ini berarti antara lain, bahwa usaha pengembangan tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan intelektual semata, tetapi mengutamakan adanya lingkungan yang kondusif dimana factor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang konkret dari nilai-nilai hidup tersebut. Karena lingkungan merupakan factor yang cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial terdekat terutama mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan Pembina yaitu orang tua dan guru.

BAB III. Penutup

  1. Kesimpulan

Secara umum perkembangan nilai, moral dan sikap pada individu di pengaruhi oleh factor eksternal atau faktpr yang berasal dari luar individu, seperti lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dimana dalam lingkungan ada interaksi antara lingkungan dengan individu.Setiap individu memiliki perkembangan nilai, moral dan sikap yang berbeda-beda. Hal itu tergantung usia, factor kebudayaan dan tingkat pemahamannya. Upaya –upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangn nilai, moral dan sikap remaja adalah menciptakan komunikasi di samping memberi informasi,tetapi remaja diberikan kesempatan untuk berpartisipasi untuk aspek moral, serta menciptakan system lingkungan yang kondusif atau aman. Sehingga guru mampu mengajar dan mendidik dengan baik serta peserta didik mampu menerima dan mengaplikasikannnya dengan baik pula.

2. Saran

Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, tentu kami menyadari bahwa makalah kami ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami sangat mengharapkan saran-saran yang membangun dari pembaca agar makalah ini dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2198158-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan.  Diakses tanggal 13 Maret 2012.

Hartinah, Sitti. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama.

Jufri, A. Wahab. 2010. Belajar dan Pembelajaran Sains. Mataram: Arga Puji Press.

Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono.2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:     Rineka Cipta.

2 thoughts on “PERKEMBANGAN NILAI, MORAL DAN SIKAP

  1. thankyou… Im student in The University of Mataram too :) at English Manajemant this year..your blog useful for me to done my assigment … :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s